Sekolah Rakyat Natuna Ungkap Alasan 11 Siswa Mengundurkan Diri
- 01 Okt 2026 19:43 WIB
- Ranai
RRI.CO.ID, Natuna – Sekolah Rakyat Kabupaten Natuna membenarkan adanya sejumlah siswa yang mengundurkan diri dari asrama dalam sepekan terakhir. Kepala Sekolah Rakyat Natuna, Bumiselan, menyebut dari total 75 siswa angkatan pertama, sebanyak 11 siswa telah resmi mengundurkan diri, sementara enam siswa lainnya masih dalam proses pendekatan untuk bertahan.
Bumiselan mengatakan, 11 siswa yang mengundurkan diri tersebut telah memiliki peserta didik pengganti. Menurutnya, pengunduran diri siswa bukan disebabkan persoalan perundungan maupun makanan, melainkan karena kerinduan terhadap orang tua atau homesick.
“Terhadap pengunduran diri siswa ini memang benar adanya. Penyebab utamanya bukan karena bullying, bukan karena makanan, tapi karena rindu orang tua atau homesick berat. Ini murni faktor psikologis,” ujar Bumiselan saat dikonfirmasi RRI, Rabu, 30 September 2026.
| Baca juga: SMAN 1 Bunguran Timur Perpanjang BDR |
Bumiselan menjelaskan, sebagian besar siswa Sekolah Rakyat Natuna berasal dari keluarga miskin ekstrem yang tinggal di sejumlah wilayah kepulauan. Kondisi tersebut membuat sebagian siswa harus beradaptasi dengan lingkungan asrama karena sebelumnya belum pernah tinggal jauh dari orang tua dalam waktu lama.
“Anak-anak ini seumur hidup belum pernah pisah dari ibu-bapaknya. Tiba-tiba harus tinggal di asrama full 24 jam, dengan aturan bangun jam 5 pagi, belajar sampai malam, tidak bebas main HP. Jadi kaget budaya, kaget mental,” jelasnya.
Menurut Bumiselan, kondisi tersebut juga diperkuat dengan respons sebagian orang tua ketika mendapat kabar anaknya menangis atau ingin pulang. Ia menyebut orang tua terkadang langsung datang menjemput tanpa terlebih dahulu berkoordinasi dengan pihak sekolah.
“Kami sudah sosialisasi, tapi mungkin sosialisasinya kurang dalam. Orang tua mengira Sekolah Rakyat itu seperti sekolah biasa yang pulang pergi. Padahal ini sekolah berasrama, semua gratis. Jadi ketika anaknya nangis, orang tuanya langsung bawa pulang, tanpa tanya dulu ke pembina,” ucapnya.
Bumiselan menegaskan, pihak sekolah tidak akan memberikan sanksi kepada siswa yang mengundurkan diri dan tetap membuka ruang bagi mereka yang ingin kembali bersekolah. Sekolah juga akan melakukan pendekatan persuasif dengan melibatkan orang tua, psikolog, dan Dinas Sosial.
Selain itu, sekolah akan melakukan sejumlah penyesuaian selama masa awal pembelajaran, termasuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan video call dengan orang tua setiap sore selama 30 menit. Pendampingan terhadap siswa putri juga akan diperkuat dengan menambah pengasuh perempuan agar proses adaptasi di asrama dapat berjalan lebih baik.
“Kami mohon pengertian masyarakat. Sekolah Rakyat ini program baru. Kami masih belajar. Tapi niat kami tulus, ingin anak-anak miskin di Natuna bisa sekolah tinggi tanpa biaya. Kami akan mencoba benahi pola asuhnya,” kata Bumiselan.
Sementara itu, Bupati Natuna Cen Sui Lan telah menggelar rapat khusus bersama pihak pengasuh Sekolah Rakyat untuk membahas kondisi tersebut. Pemerintah Kabupaten Natuna juga akan terus memantau pelaksanaan Sekolah Rakyat dan mendorong pihak sekolah terbuka terhadap evaluasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....