Masjid Muhammadan Tetap Kokoh Karena Putih Telur

  • 27 Mei 2024 11:50 WIB
  •  Padang

KBRN, Padang : Masjid Muhammadan termasuk salah satu masjid tertua di Kota Padang yang terletak di Kelurahan Pasa Gadang, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang. Masjid ini dibangun oleh komunitas Muslim keturunan India di Padang.

Masjid ini dibangun pada tahun 1843 dan berada ditengah pemukiman masyarakat keturunan India yang dikenal dengan Kampung Kaliang (kampung keling), lokasinya tidak jauh dari pelabuhan Muara Padang.

Bangunan Masjid Muhammadan dipengaruhi oleh arsitektur corak India, terutama pada bagian depan yang bercat putih dengan hiasan ornamen berwarna hijau yang disangga oleh tujuh tiang, termasuk tiang ujung kiri dan kanan yang menyatu dengan sebuah bangunan berbentuk menara.

Masjid ini memiliki ukuran lebar 15 meter dan panjang 25 meter. Bangunannya terdiri dari tiga lantai, lantai dasar merupakan tempat shalat, sementara lantai dua dan tiga merupakan tempat istirahat yang juga digunakan untuk beberapa keperluan lain seperti memasak.

Di tempat shalat tidak terlihat mimbar seperti umumnya masjid-masjid yang ada di Padang, melainkan hanya jendela berbentuk seperti mimbar dan ditutupi kain hijau berlambang bulan dan bintang. Ini merupakan ciri khas arsitektur bangunan-bangunan di India bagian selatan

Keunikan Mesjid ini terletak pada proses pembangunannya yang menggunakan lapisan putih telur sebagai pengganti semen. Dilansir dari halaman resmi Kemenag Sumbar, saat pembangunan masjid ini, para saudagar dari India bergantian membawa bahan putih telur langsung dari India, karena untuk semen pada jaman itu susah mencarinya. Putih telur tersebut kemudian di campur dengan kapur.

Meskipun dibangun dengan putih telur, namun mesjid tetap kokoh. Buktinya saat gempa hebat di tahun 2009, mesjid ini hanya mengalami retak-retak kecil.

Salah satu tradisi yang di Masjid Muhammadan adalah Serak Gulo. Sebuah tradisi menyerakkan (membagi-bagikan) gula oleh masyarakat India Kota Padang untuk berbagai rezeki dengan masyarakat sekitar. Tradisi ini berlangsung pada 1 Jumadil Akhir di setiap tahunnya, atau tiga bulan menjelang bulan Ramadhan.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....