Denyut Perhotelan Sumbar saat Efisiensi Fiskal Menguji Sektor Andalan
- 28 Jun 2026 12:18 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - Ada kontras yang kentara ketika menyandingkan potret pergerakan wisatawan domestik antara tahun 2024 dan 2025. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mencatat, tahun 2024 jauh lebih bergairah dibanding tahun berikutnya.
Penurunan ini bukan tanpa sebab dan hal itu dampak langsung dari rem darurat yang ditarik pemerintah melalui kebijakan efisiensi anggaran, langkah penghematan fiskal yang langsung memukul industri hilir, termasuk sektor perhotelan. Kepada RRI Sabtu, 27 Juni 2026, Sekjen PHRI, Maulana Yusran menyatakan, tidak ada maksud dari industri perhotelan merengek meminta keistimewaan. Justeru hal demikian seruan untuk melihat lebih dalam isi dompet daerah-daerah di Indonesia yang faktanya tidak memiliki garis start yang sama dalam menggali Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Ketika berbicara tentang Sumatra Barat, peta ekonominya jelas Maulana sangatlah spesifik. Ranah Minang tidak berdiri di atas sokongan raksasa industri manufaktur, juga tidak ditopang oleh hamparan luas perkebunan monokultur atau kerukan tambang yang masif layaknya provinsi tetangga. Kekuatan utama Sumatera Barat adalah denyut nadi perdagangan dan sektor jasa, yang menempatkan pariwisata dan perhotelan sebagai jangkar utamanya.
“Oleh karena itu, ketika kebijakan efisiensi anggaran pemerintah pusat dan daerah menekan intensitas perjalanan dinas serta kegiatan MICE (Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions), dampaknya bagi Sumbar terasa berlipat ganda,” urainya.
Bagi Sumatra Barat, keterisian kamar hotel (okupansi) pada musim liburan tidak pernah berdiri tunggal. Wisatawan yang datang menjinjing koper ke daerah ini membawa dua motif yang saling berkelindan yakni liburan dan keperulan bisnis.
“Seorang pedagang yang datang memantau pasokan, seorang investor skala menengah, atau aparatur yang menghadiri koordinasi wilayah, semuanya adalah penggerak roda okupansi. Mereka tidak sekadar menyewa kamar untuk tidur, tetapi juga menghidupkan pelaku UMKM, memesan transportasi lokal dan mengisi meja-meja restoran. Intinya, sektor perhotelan di Sumatera Barat bukan sekadar industri pelengkap gaya hidup, ia adalah urat nadi PAD, wadah penyerapan tenaga kerja lokal dan motor utama yang menjaga api perekonomian Sumatera Barat tetap menyala,” papar Maulana.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....