Buayan Kaliang, Permainan Tradisional Pariaman Sekali Setahun

  • 25 Mar 2026 19:48 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Buayan Kaliang, salah satu permainan tradisional ini sudah 70 tahun malang melintang di Pariaman, bahkan menjadi bagian dari tradisi dalam setiap perayaan Lebaran. Buayan Kaliang ini selalu hadir setiap tahunnya di Hari Raya Idulfitri dengan lokasi yang mudah dicari yaitu dekat pantai gandoriah pariaman, tepatnya di belakang Masjid Nurul Bahari, Kelurahan Pasir, Kecamatan Pariaman Tengah.

Buayan Kaliang ini merupakan permainan tradisional anak nagari, yang terbuat dari rangka kayu terdiri dari kotak segi empat sebagai bangku atau tempat duduk penumpangnya. Satu buayannya digerakkan dengan tenaga manusia yang terdiri dari empat kotak penumpang.

Menurut ibu Nurhayati (Mak Inun) pemilik Buayan Kaliang yang tinggal di Kampung Belacan Kecamatan Pariaman Tengah ini, bahwa Buayan Kaliang ini merupakan usaha turun temurun dari ayah beliau (Abang Ayo) sebagai pengelola pertama permainan ini di Pariaman. “Dulu usaha ini dikelola oleh ayah saya dengan 15 unit Buayan Kaliang. Setelah beliau meninggal maka usaha tersebut saya yang meneruskannya sampai sekarang,” ujarnya.

Nurhayati mengungkapkan, saat ini Buayan di Kota Pariaman hanya tiga unit yang bisa dimainkan karena keterbatasan tempat yang semakin sempit. “Sehingga sisa dari buayan kaliang itu kami sebar dibeberapa lokasi agar tetap bisa termanfaatkan dan menghasilkan perputaran ekonomi,” katanya.

Untuk naik Buayan Kaliang tersebut penumpang harus merogoh kocek sebesar Rp5 ribu h per orang. Satu kotak penumpang tersebut diisi sekitar empat sampai enam orang penumpang dan jika sudah penuh buayan kaliang tersebut akan dihoyak atau diputar oleh enam orang tenaga manusia hingga kecepatan maksimal baru dilepaskan.

Mak Inun berharap, agar Pemerintah Kota Pariaman tidak merubah lokasi Buayan Kaliang. “Kalau bisa kami meminta kepada pemerintah Kota Pariaman lokasi yang ada sekarang jangan diberi cor semen, biarlah tetap berlantaikan tanah agar kami bisa memasang tonggak kayu buayan tersebut dengan mudah,” kata Mak Inun.

Sementara itu salah seorang pengunjung yang berasal dari Sei. Geringging, bernama Rini mengatakan, “Sampai sekarang saya masih suka naik buayan kaliang ini karena saya suka dengan tantangan yang bisa memicu adrenalin saya apalagi ketika sampai dipuncaknya. Tapi sekarang saya tidak sama teman-teman lagi, sekarang saya bisa ajak suami dan anak saya untuk menaikinya lagi,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....