Komunitas Lokal Jadi Penggerak Utama Ekowisata di Ulakan
- 08 Okt 2025 07:40 WIB
- Padang
KBRN, Padang: Di balik berkembangnya destinasi wisata berkelanjutan di Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman, terdapat semangat gotong royong dan kesadaran lingkungan yang tumbuh dari masyarakat sendiri. Salah satu tokoh di balik gerakan ini adalah Septiadi Kurniawan, penggiat ekowisata sekaligus pendiri Green Talao Park (GTP), yang kini berevolusi menjadi Desa Wisata Terpadu Green Talao Park.
Gagasan awal membangun Green Talao Park muncul pada tahun 2015. Saat itu, Septiadi bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) mulai menginisiasi gerakan berbasis potensi lokal.
“Kami melihat kawasan pesisir dan mangrove di Ulakan belum dikelola secara optimal, padahal punya potensi besar. Di sisi lain, saat itu marak isu alih fungsi lahan menjadi tambak udang. Hal itu memicu kami untuk mengedukasi masyarakat agar potensi alam ini bisa dijaga sekaligus memberi nilai tambah ekonomi,” ungkap Septiadi.
Pergerakan ini kemudian mendapatkan sambutan positif dari masyarakat Nagari Ulakan. Melalui pendekatan ekowisata berbasis komunitas (community based tourism), pengelolaan pariwisata dilakukan sepenuhnya oleh masyarakat setempat.
“Pariwisata harus lahir dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat,” kata Septiadi. Prinsip ini menjadi pondasi penting agar kegiatan wisata tidak sekadar mengejar keuntungan, tetapi juga menjaga harmoni sosial dan ekologi.
Kini, konsep Green Talao Park telah berkembang menjadi jaringan desa wisata yang menghubungkan empat destinasi utama, yakni kawasan Pakam Syekh Burhanuddin, Pulau Pieh, Agrowisata, dan wilayah pesisir dengan hutan mangrove seluas 15 hektare. Semua destinasi tersebut terintegrasi dalam satu sistem pengelolaan desa wisata yang saling mendukung.
Septiadi menuturkan bahwa perjalanan selama hampir satu dekade mengelola ekowisata tidaklah mudah. Selain menjaga lingkungan, ia bersama masyarakat harus mengelola dinamika sosial yang terus berubah.
“Mengurus ekowisata itu tidak cuma soal cuan, tapi soal bagaimana menghadapi dinamika kelompok dan mengedukasi masyarakat agar menjadi tuan rumah yang baik bagi wisatawan,” ujarnya. Salah satu upaya penting yang dilakukan adalah mengubah cara pandang masyarakat terhadap pariwisata.
Jika dulu kawasan pantai hanya dimanfaatkan seadanya, kini warga ikut menjaga kebersihan, menanam mangrove, serta mengelola kegiatan wisata secara berkelanjutan. “Kita tidak ingin lagi masa di mana wisatawan dibeda-bedakan hanya karena plat mobilnya berbeda. Pariwisata harus adil dan membawa manfaat bagi semua,” tambah Septiadi.
Desa Wisata Green Talao Park menjadi contoh nyata bahwa pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat mampu menciptakan keseimbangan antara ekonomi, sosial, dan ekologi. Dengan dukungan seluruh elemen nagari termasuk ninik mamak dan pemuda Ulakan kini dikenal bukan hanya karena tradisi Basapa yang legendaris, tetapi juga karena keberhasilannya mengembangkan ekowisata yang berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....