Menjelajah Kayu Jao, Surga Wisata di Solok

  • 20 Jul 2025 11:34 WIB
  •  Padang

KBRN, Padang: Desa Wisata Kayu Jao terletak di Jorong Kayu Jao, Nagari Batang Barus, Kabupaten Solok. Desa Wiasata ini menjadi magnet pariwisata dengan keindahan alam, warisan budaya, dan wisata edukasi yang terintegrasi dalam satu kawasan yang mudah diakses.

Bima Eka Saputra, salah satu penggiat wisata setempat, menjelaskan bahwa Desa Wisata Kayu Jao menawarkan beragam destinasi menarik yang sangat dekat satu sama lain, memungkinkan wisatawan menjelajah berbagai tempat dalam waktu singkat. “Destinasi kita di sini lengkap, ada kebun teh, hutan pinus, air terjun, sungai, wisata religi seperti Masjid Tuo Kayu Jao, serta wisata peternakan dan homestay,” ujarnya.

Wisatawan dapat menikmati udara segar sambil berjalan di antara hamparan kebun teh yang hijau. Pemandangannya terlihat paling memesona pada musim hujan antara September hingga Desember, ketika pucuk-pucuk teh sedang tumbuh subur.

Tak jauh dari situ, terdapat air terjun Sarasah yang menjadi tempat pemandian alami favorit. Sementara itu, bagi pencinta arung jeram, Sungai di bawah area Masjid Tuo menjadi lokasi utama. “Kita punya sungai induk di bawah Masjid Tuo, itu juga jadi lokasi wisata arung jeram,” kata Bima.

Salah satu ikon desa ini adalah Masjid Tuo Kayu Jao, masjid tertua kedua di Indonesia yang dibangun pada tahun 1597 Masehi. Dengan 24 tiang asli dan arsitektur khas Minangkabau, masjid ini masih digunakan untuk aktivitas ibadah harian dan kegiatan keagamaan warga sekitar.

Tak hanya menawarkan pemandangan, Kayu Jao juga menyuguhkan wisata edukasi peternakan di Daima Moosa Farm. Wisatawan bisa belajar langsung cara memerah susu sapi dan membawa pulang susu murni dengan harga hanya Rp10 ribu per liter.

“Di sana nanti ada pemandu yang mengajarkan cara memerah susu, cara mengelola sapi, bahkan memilih sapi yang siap diperah. Tapi susunya tetap harus dimasak dulu sebelum dikonsumsi,” jelas Bima.

Seluruh destinasi wisata ini dapat diakses dalam waktu tempuh sekitar 20–30 menit. “Semuanya saling berdekatan, dalam satu kawasan. Dari wisata peternakan, kita lanjut ke kebun teh, lalu ke air terjun, dan terakhir ke Masjid Tuo,” jelas Bima.

Dengan potensi alam yang melimpah, kekayaan budaya, serta semangat masyarakat lokal dalam mengembangkan desa, Kayu Jao menjadi contoh nyata pengembangan desa wisata berbasis kearifan lokal. Bima berharap ke depan pengelolaan lebih profesional bisa dilakukan, termasuk dalam pengelolaan air terjun dan sungai sebagai bagian dari pengembangan wisata berkelanjutan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....