Merawat Jiwa Korsa di Meja Makan Lemhannas
- 08 Sep 2026 16:31 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang – Suara gemerincing sendok dan piring beradu riuh di ruang makan. Aroma bumbu masakan hangat menyeruak, menyambut puluhan peserta Training of Trainers (ToT) PPNK Lemhannas RI Angkatan 39 yang baru saja keluar dari ruang kelas dengan kepala penuh oleh materi wawasan nusantara, geopolitik dan ketahanan nasional.
Wajah-wajah lelah tampak semringah. Makan siang selalu menjadi jeda yang paling dinanti setelah berjam-jam ditempa diskusi berat.
Saya berdiri agak di belakang, memegang piring kosong sambil melangkah perlahan mengantre. Namun, begitu saya mendekati meja prasmanan, langkah para peserta di depan saya mendadak terhenti. Ada riak canggung yang menjalar cepat dari barisan depan hingga ke belakang.
Tempat lauk pauk di meja sajian sudah dalam keadaan kosong, hanya bersisa kuah dan piring penyaji yang bersih. Padahal di barisan belakang, masih ada puluhan rekan angkatan yang belum mendapatkan makanan sama sekali. Panitia yang berdiri di ujung meja bolak-balik memeriksa catatan. Secara logistik, porsi yang disiapkan persis sesuai jumlah piring dan kepala yang hadir hari itu.
Seketika, suasana di ruang makan berubah agak riuh. Ada yang saling pandang, ada yang tersenyum canggung dan tak sedikit yang mulai berbisik-bisik. Tanpa disadari, beberapa rekan yang tiba lebih awal mengambil porsi berlebih, tergesa-gesa mengisi piring hingga menggunung, melupakan ada saudara sebangkunya yang masih berbaris di belakang.
Begitulah sekelumit gambaran pemandangan di ruang makan hingga gong tanda masuk ruangan kelas kembali berdentang. Bagi sebagian peserta yang sudah lebih dulu bersantap, mungkin kejadian di ruang makan tidak dianggap sebagai sebuah bahan perenungan. Namun tidak bagi Pembina Lemhannas RI yang saat mengetahui kejadian langsung mengambil alih suasana di ruang kelas. Beliau berdiri tegak, memandang ke seluruh penjuru ruangan.
Pembina Lemhannas RI ini memang tidak berteriak lantang, tidak pula meluapkan kemarahan dengan kata-kata kasar. Namun nada suaranya yang tenang dan dingin justru menghunjam tepat di dada seluruh peserta.
"Bapak dan Ibu sekalian," ucap sang pembina, gaung suaranya memantul di dinding ruangan. "Di ruang kelas, kita baru saja berbicara tentang Pancasila, wawasan nusantara dan ketahanan bangsa. Kita berdiskusi panjang lebar tentang jiwa korsa. Tapi lihatlah meja makan ini siang ini,” ujarnya.
Sejenak ia menghentikan kalimatnya, membiarkan tatapannya menembus kesadaran satu per satu peserta.
"Bagaimana mungkin kita akan menjaga bangsa ini, bagaimana mungkin kita bicara tentang kebersamaan dan rasa senasib sepenanggungan, kalau di meja makan saja kita lupa pada kawan di belakang kita? Jiwa korsa itu bukan slogan di atas kertas. Jiwa korsa itu dimulai dari memastikan piring saudaramu terisi sebelum kamu menghabiskan isi meja,” paparnya dengan nada yang mulai sedikit meninggi.
Kalimat itu rasanya lebih tajam dari teguran militer mana pun. Beberapa rekan menunduk, tak berani menatap sang pembina. Hari itu, teguran di meja makan menjadi cermin besar yang menelanjangi ego masing-masing peserta.
Pengalaman di meja makan hari itu menjadi alarm yang nyaring bagi Angkatan 39. Pendidikan singkat di Lemhannas RI kini memang telah usai, namun peristiwa tersebut akan selalu menjadi pengingat yang merendahkan hati.

Jiwa korsa sejatinya bukanlah yel-yel yang hanya lantang diucapkan saat mengenakan seragam pelatihan. Ujian sebenarnya justru hadir saat kita kembali ke dunia masing-masing, menghadapi dinamika organisasi, perbedaan pandangan dan benturan kepentingan.
Sebagai alumni yang datang dari berbagai latar belakang dan sudut pandang, perbedaan pendapat dalam berorganisasi adalah hal yang wajar, bahkan niscaya. Namun merawat 4 Konsensus Dasar Bangsa yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika sama halnya dengan belajar merawat keberagaman itu sendiri dengan lapang dada. Kita boleh berbeda arah pikiran, tetapi kita tidak boleh saling menjatuhkan atau meninggalkan kawan di belakang.
Dari meja makan Lemhannas, kami belajar satu hal mendasar, kepemimpinan dan jiwa korsa yang sejati tidak pernah diukur dari seberapa besar porsi yang kita ambil untuk diri sendiri, melainkan dari seberapa peduli kita memastikan tak ada satu pun saudara kita yang terlupakan.
(Catatan Sri Darni , Alumni ToT PPNK Lemhannas RI Angkatan 39)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....