Pengamat Sejarah: Merawat Benteng Diri dengan Membumikan Pancasila

  • 30 Sep 2026 14:48 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Di tengah pusaran arus globalisasi dan lompatan teknologi yang makin deras, peringatan Hari Kesaktian Pancasila setiap 1 Oktober kembali mengetuk kesadaran bersama. Pancasila tidak boleh sekadar menjadi teks hafalan di lembar sejarah atau seremonial tahunan, melainkan benteng moral yang hidup dan bernapas dalam keseharian generasi muda Indonesia.

Tangan-tangan muda hari ini memegang kendali atas teknologi yang mampu menggenggam dunia. Namun, di balik kemudahan dan kebebasan informasi tersebut, terdapat ancaman yang tidak tampak, tergerusnya rasa peduli, menipisnya toleransi, hingga menguatnya sikap apatis terhadap nasib bangsa.

Pengamat Sejarah Sumatera Barat, Dedi Asmara kepada RRI menegaskan, tantangan terbesar era kini adalah bagaimana membumikan nilai-nilai Pancasila agar kembali relevan dan menyatu dalam tindakan nyata anak muda.

"Kita dihadapkan pada perubahan luar biasa yang dipicu oleh teknologi. Pengaruh budaya luar dan pergeseran nilai pasti ada, dan kita tidak bisa membendung arus tersebut dengan menutup diri. Yang kita butuhkan adalah benteng yang kokoh dari dalam, dan benteng itu adalah Pancasila," ujar Dedi Asmara, Rabu, 30 September 2026.

Dedi menyoroti fenomena yang cukup memprihatinkan terkait sikap cuek atau individualis yang makin marak di kalangan anak muda. Padahal, kepedulian sosial, tenggang rasa, dan saling menghargai adalah fondasi utama yang menjaga Indonesia tetap berdiri kukuh sebagai bangsa yang beragam.

Tak hanya itu, ia juga menumpahkan perhatiannya pada dinamika generasi muda terpelajar. Banyak anak muda Indonesia yang menorehkan prestasi gemilang di kancah internasional hingga menempuh pendidikan tinggi di luar negeri. Namun, tidak sedikit diantara mereka yang perlahan kehilangan pijakan nasionalismenya setelah menyerap nilai-nilai luar.

"Prestasi di tingkat dunia itu sangat membanggakan. Namun, ilmu dan kepintaran akan kehilangan arah jika nasionalisme tak lagi diterapkan. Ke mana pun anak muda kita melangkah dan setinggi apa pun pendidikan yang dipijak, akar keindonesiaannya harus tetap tancap kuat. Jangan sampai setelah pulang, nilai-nilai luhur bangsa sendiri justru luntur," tegasnya.

Memaknai Hari Kesaktian Pancasila di era modern, menurut Dedi, berarti mengembalikan Pancasila ke meja diskusi anak muda, ke ruang-ruang digital, dan ke dalam sikap saling peduli antarsesama. Pancasila harus betul-betul dipahami dan diamalkan oleh setiap elemen bangsa tanpa kecuali.

Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial bukan lagi sekadar jargon politis, melainkan kompas moral agar generasi muda tidak kehilangan arah di tengah gempuran pengaruh negatif zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....