Guru BK di Padang Didorong Jadi Sahabat Anak Cegah Kekerasan di Sekolah

  • 09 Sep 2026 01:23 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang – Guru Bimbingan Konseling (BK) di Kota Padang didorong memperkuat peran sebagai sahabat anak dalam mencegah dan menangani kekerasan di lingkungan sekolah. Pendekatan yang lebih humanis dan strategi jemput bola dinilai penting agar anak berani menyampaikan persoalan yang dihadapinya.

Kepala DP3AP2KB Kota Padang, Boby Firman, mengatakan fenomena kekerasan terhadap anak di Kota Padang seperti gunung es karena kasus yang tercatat diyakini belum menggambarkan kondisi sebenarnya. Berdasarkan data UPTD PPA Kota Padang, tercatat 61 kasus kekerasan terhadap anak pada 2025 dan meningkat menjadi 62 kasus hingga pertengahan 2026.

“Posisi guru BK sangat strategis karena berada dekat dengan anak dan dapat mengenali perubahan perilaku maupun persoalan yang dialami siswa. kapasitas guru BK perlu diperkuat agar mampu melakukan pencegahan sekaligus memberikan pendampingan awal terhadap anak yang menghadapi kekerasan,” katanya saat Bimtek Manajemen Kasus bagi Guru BK SMP Negeri Se-Kota Padang di Aula Bagindo Aziz Chan, Balai Kota Padang pada Selasa 8 September 2026.

Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui penguatan kemampuan manajemen kasus bagi guru BK. DP3AP2KB Kota Padang juga tengah menyiapkan kerja sama dengan Dinas Pendidikan untuk mendukung penerapan Sekolah Ramah Anak dan Sekolah Siaga Kependudukan.

Kepala Bidang Perlindungan Hak Perempuan dan Perlindungan Khusus Anak DP3AP2KB Kota Padang, Emilza, menekankan penanganan kekerasan terhadap anak tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Sinergi antara sekolah, pemerintah, aparat penegak hukum, keluarga, dan masyarakat diperlukan agar setiap kasus dapat ditangani secara tepat.

Dari sisi kepolisian, Ka Team 2 Klewang Polresta Padang, Aiptu Defit Rico Dermawan, mendorong guru BK mengubah stigma sebagai pihak yang hanya menangani siswa bermasalah. Guru BK diharapkan hadir sebagai sahabat anak yang humanis dan aktif menjemput persoalan sebelum berkembang menjadi kasus yang lebih serius.

Pendekatan jemput bola dinilai penting karena tidak semua anak memiliki keberanian untuk melaporkan kekerasan yang dialaminya. Dengan membangun komunikasi yang lebih terbuka, guru BK dapat menjadi pintu awal bagi anak untuk mendapatkan perlindungan dan pendampingan.

Sementara itu, Tim Evaluasi Program Unggulan Pemko Padang, Marta Suhendra, menyebut Wali Kota Padang Fadly Amran mendorong penyelesaian persoalan melalui pendekatan dari bawah. Dengan cara tersebut, persoalan yang terjadi di lapangan diharapkan dapat dipetakan secara transparan dan ditangani secara terukur.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....