Kogami Padang Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Gempa dan Tsunami

  • 17 Agt 2026 06:14 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang- Dampak bencana gempa dengan magnitudo 7,7 yang melanda Nusa Tenggara Timur kemarin, Komunitas Siaga Tsunami (Kogami) Kota Padang terus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana gempa bumi dan tsunami. Upaya tersebut dilakukan melalui kampanye kebencanaan, edukasi masyarakat serta mendorong pemerintah daerah agar lebih fokus pada upaya prabencana.

Direktur Kogami Kota Padang, Patra Rina Dewi, mengatakan Sumatera Barat merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi ancaman gempa cukup tinggi. Ancaman tersebut berasal dari gempa darat maupun gempa yang bersumber dari laut, khususnya aktivitas megathrust di Samudera Hindia.

“Sumatera Barat hampir seluruh kabupaten dan kotanya rawan gempa. Kita punya dua potensi gempa, yakni gempa darat sepanjang Sesar Semangko dan gempa dari Samudera Hindia yang bersumber dari megathrust,” ujar Patra Rina Dewi, Minggu 16 Agustus 2026.

Menurutnya, Kogami sejak 2005 terus mengkampanyekan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat sekaligus mengadvokasi pemerintah agar lebih serius dalam mempersiapkan masyarakat sebelum bencana terjadi. Masyarakat dinilai perlu memahami tanda-tanda alam sebagai bagian dari peringatan dini, sementara teknologi menjadi pendukung dalam menentukan keputusan evakuasi.

“Kita selalu mengkampanyekan agar masyarakat memahami tanda-tanda akan terjadi bencana secara alam. Peringatan dini utama sebaiknya kita memahami tanda alam, kemudian teknologi menjadi pendukung keputusan evakuasi mandiri,” jelasnya.

Patra menyebutkan, keterbatasan sumber daya yang dimiliki Kogami membuat kolaborasi dengan pemerintah daerah menjadi hal penting. Saat ini, salah satu hasil advokasi Kogami yakni telah terbentuknya sekretariat bersama untuk Satuan Pendidikan Aman Bencana di Kota Padang dan tingkat Sumatera Barat. Keberadaan satuan tersebut dinilai strategis karena edukasi kebencanaan dapat menjangkau warga sekolah secara luas melalui para guru dan peserta didik.

“Kita memang punya keterbatasan sumber daya, baik orang maupun finansial. Karena itu kita bermitra dan mengadvokasi pemerintah daerah sebagai penanggung jawab untuk melindungi masyarakat dari ancaman bencana,” katanya. Patra menambahkan, meski Kogami hanya memiliki enam orang yang secara aktif mengurus organisasi, pihaknya didukung sekitar 100 relawan yang dapat digerakkan untuk kegiatan kesiapsiagaan dan edukasi kebencanaan di berbagai wilayah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....