Integrasi Perternakan Sapi dan Sawit Dongkrak Populasi Ternak di Sumbar
- 03 Agt 2026 06:24 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang – Integrasi peternakan sapi dengan perkebunan kelapa sawit dinilai mampu meningkatkan populasi ternak sekaligus memperkuat peternakan rakyat di Sumatera Barat. Model tersebut telah diterapkan di Kabupaten Pesisir Selatan dan menunjukkan peningkatan populasi sapi pesisir secara signifikan.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sumatera Barat, Sukarli, mengatakan pengembangan sapi pesisir melalui integrasi dengan kebun sawit menjadi salah satu contoh keberhasilan pembangunan peternakan berbasis potensi lokal. Menurutnya, sistem tersebut memanfaatkan lahan perkebunan sebagai kawasan penggembalaan sekaligus sumber pakan ternak.
"Sapi pesisir ini kita sudah lakukan, saya dulu di Pesisir Selatan mencoba mengembangkan sapi pesisir terintegrasi dengan kelapa sawit. Di Lunang itu populasinya sekitar 500-an ekor, saya terakhir ke sana tahun 2023 populasinya sudah lebih dari 5.000 ekor,” ujar Sukarli dalam dialog Padang Menyapa di RRI Pro 1 Padang, Sabtu 1 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, tidak semua wilayah di Sumatera Barat cocok dikembangkan dengan sapi berukuran besar seperti Simmental atau Limousin. Kawasan pesisir justru dinilai lebih sesuai untuk pengembangan sapi pesisir karena memiliki daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan dan sistem pemeliharaan masyarakat.
"Kalau sapi pesisir ini boleh dikatakan sapi atlet, karena dia berjalan sepanjang hari, tekstur dagingnya lebih gurih karena lemak subkutannya lebih tipis," ujarnya. Menurut Sukarli, keunggulan tersebut menjadi modal untuk mengembangkan sapi pesisir sebagai komoditas unggulan peternakan rakyat di wilayah pesisir Sumatera Barat.
Sementara itu, Kepala Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTUHPT) Padang Mengatas, Farouk Mochtar, mengatakan pihaknya terus memperkuat penyediaan bibit sapi pesisir. Saat ini jumlah ternak sapi pesisir di Padang Mengatas telah meningkat dibandingkan saat awal program pengembangannya.
"Kami juga di BPTUHPT Padang Mengatas sangat concern untuk pengembangan sumber daya lokal sapi pesisir. Jumlah induk di awal itu 150 ekor, sekarang jumlahnya kurang lebih 600 ekor dengan induk sekitar 340 ekor, per tahun kami memproduksi kurang lebih 200 sampai 250 ekor," ujar Farouk.
Farouk mengatakan, kapasitas pengembangan di Padang Mengatas memiliki keterbatasan sehingga diperlukan sentra pembibitan baru di daerah asal sapi pesisir. Karena itu, pihaknya telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan untuk memperluas pengembangan bibit di tingkat peternak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....