LP2M Kenalkan Sembilan Buku Panduan Pendidikan Seksual dan Reproduksi

  • 30 Jun 2026 14:35 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat (LP2M) Sumatera Barat memperkenalkan sembilan buku panduan pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi bagi keluarga sebagai upaya mencegah perkawinan anak. Buku tersebut diperkenalkan kepada kelompok dampingan LP2M yakni Keluarga Pembaharu dalam peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) yang digelar bersama Konsorsium PERMAMPU secara hibrid, Senin, 29 Juni 2026.

Direktur LP2M Sumatera Barat, Felmi Yetti, mengatakan sembilan buku itu disusun berdasarkan tiga kelompok usia anak, yakni 0–5 tahun, 6–12 tahun, dan 13–18 tahun. Menurutnya, pendekatan tersebut bertujuan membantu orang tua memberikan pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi sesuai tahap perkembangan anak.

"Tema kegiatan ini adalah bagaimana keluarga mengkomunikasikan pendidikan kesehatan seksual reproduksi kepada anak mereka. Selama ini komunikasi di dalam keluarga masih cukup terhambat, padahal ini juga menjadi upaya pencegahan dan penanganan perkawinan usia anak," kata Felmi.

Ia menjelaskan buku panduan tersebut menjadi pegangan bagi orang tua dalam menyampaikan materi kesehatan reproduksi secara bertahap dan sesuai usia anak. Melalui panduan itu, orang tua diharapkan mampu membangun komunikasi yang terbuka sehingga anak memperoleh informasi yang benar sejak dini.

"Orang tua di Keluarga Pembaharu kami minta membaca buku ini terlebih dahulu, kemudian mereka memberikan edukasi kepada anak-anaknya. Setelah itu kami melihat apa saja hambatan dan tantangan yang mereka hadapi," ujarnya.

Sementara itu, anggota Keluarga Pembaharu asal Padang Pariaman, Rosneli, mengatakan buku panduan tersebut membantu keluarganya lebih percaya diri membahas kesehatan reproduksi dengan anak. Meski demikian, ia mengakui masih ada tantangan karena sebagian istilah anatomi tubuh selama ini dianggap tabu untuk dibicarakan di lingkungan keluarga.

"Isi bukunya bagus dan mudah dipahami, hanya saja kami masih belajar menggunakan istilah-istilah yang selama ini dianggap tabu. Tantangannya adalah mencari cara menyampaikannya agar anak bisa memahami dengan baik," tutur Rosneli

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....