Panggilan Kekerabatan di Minangkabau Jangan Sampai Tergilas Modernisasi Zaman

  • 24 Apr 2026 14:47 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang-Pelestarian panggilan kekerabatan dalam budaya Minangkabau dinilai sangat penting sebagai bagian dari identitas adat dan jati diri masyarakat. Di tengah arus modernisasi dan pengaruh global, penggunaan sapaan tradisional mulai berkurang, terutama di kalangan generasi muda.

Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar, Prof Dr Fauzi Bahar Dt Nan Sati mengatakan panggilan adat bukan sekadar sebutan, tetapi mencerminkan nilai, etika, dan struktur sosial dalam budaya Minangkabau. Menurutnya, hilangnya kebiasaan ini akan berdampak pada pudarnya identitas budaya.

“Sangat penting. Kalau kita tidak terbiasa menggunakan panggilan adat, nanti ada yang hilang dalam kebudayaan kita. Panggilan itu bagian dari bahasa dan tata krama yang harus kita lestarikan,” ujar Fauzi Bahar dalam Program MAOTA (Ngobrol Asik Ala Urang Awak), Kamis 23 April 2026.

Ia menjelaskan, masyarakat Minangkabau memiliki ragam panggilan yang sangat kaya dan berbeda tergantung garis keturunan, baik dari pihak ibu maupun ayah. Keunikan ini menjadi salah satu kekayaan budaya yang tidak dimiliki semua daerah.

“Kalau dari pihak ibu dan ayah, panggilannya bisa berbeda. Ini menunjukkan betapa kayanya budaya kita,”ujar mantan Walikota Padang Priode 2004-2014 itu.

Sementara itu Tori Rahmat Dinata mengakui pengaruh globalisasi dan perkembangan media sosial turut memengaruhi pola komunikasi generasi muda. Banyak di antaranya mulai mengganti panggilan adat dengan sapaan umum seperti mama atau tante yang dianggap lebih praktis dan modern.

“ Meski begitu, kita sepakat modernisasi tidak harus menghilangkan nilai-nilai adat. Masyarakat Minangkabau diharapkan tetap menggunakan panggilan tradisional, terutama saat berada di lingkungan kampung atau dalam konteks adat, agar warisan budaya tetap terjaga di tengah perubahan zaman,” katanya.

Pada Edisi perdana "Maota", RRI Padang menghadirkan narasumber Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM), Prof Dr Fauzi Bahar Dt Nan Sati dan Tori Rahmat Dinata. Dengan pembawa acara Wahyudi Maswar dan Rini Kamal yang membahas tentang budaya dan kearifan lokal bersama Gen Z.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....