Kemenag dan Ditjenpas Sumbar Perkuat Kerjasama Revolusi Pembinaan Keagamaan WBK

  • 08 Apr 2026 15:39 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang –Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumatera Barat (Sumbar) bersama Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Sumbar bersinergi membangun kelas dan kamar khusus pesantren untuk warga binaan. Hal dimaksud disampaikan Kepala Kakanwil Kemenag Sumbar, Mustafa usai menjamu audiensi Kepala Ditjenpas Sumbar, Rabu, 8 April 2026.

Mustafa mengatakan, pertemuan tersebut merupakan awal dari revolusi pembinaan spiritual di balik rumah tahanan. Menurutnya, sejumlah program pembinaan spiritual dan keagamaan pada warga binaan masih berjalan namun belum maksimal.

Sementara itu, Kabid Penaiszawa Abrar Munanda memberikan pandangan praktis. Ia mendukung penuh dan mengusulkan DitjenPAS bisa menggelar pertemuan virtual dengan para penyuluh agama yang selama ini sudah terlibat.

“Para penyuluh belum terlalu paham struktur lapas seperti apa. Mereka perlu orientasi dan pembekalan secara daring,” ujar Abrar.

Data menunjukkan, ada 1.094 penyuluh agama yang tersebar di seluruh kecamatan di Sumbar. Abrar berharap sejumlah penyuluh bisa menjadi garda terdepan, tidak hanya untuk masyarakat umum, tapi khusus untuk warga binaan rutan.

“Minimal mereka mengenali karakteristik masing-masing warga binaan. Seperti apa karakter napi narkoba, koruptor, curanmor, atau lainnya. Dengan begitu, pendekatan bisa lebih personal dan efektif,” katanya.

Sementara itu, Kepala Ditjenpas Sumbar, Runkat Kasmiri mengatakan, rumah tahanan dan lembaga pemasyarakatan bukanlah tempat untuk sekadar menghukum.“Dapur rutan harus higienis, klinik harus setara Pratama dengan dokter, perawat, laboratorium, dan sarpras air yang memadai. Itu minimum. Tapi lebih dari itu, kita ingin rutan menjadi rumah binaan yang mencetak warga dengan tujuan hidup yang baik di tengah masyarakat,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, Selama ini, program pesantren di dalam lapas sudah ada, namun berjalan tanpa arah. “Silabusnya tidak jelas, kegiatannya juga belum begitu jelas. Maka, kami memutuskan untuk menggunakan metode danpendekatan lain,” ujarnya.

Runkat mengusulkan pembangunan kelas dan kamar khusus pesantren untuk warga binaan. “Untuk tahap awal, 40 orang tahanan akan disiapkan sebagai angkatan perdana. Nanti, setelah 30 atau 40 orang ini lulus, mereka akan disebar ke kamar-kamar lain. Mereka yang sudah ‘lulus pesantren’ ini akan mengedukasi dan berbagi ilmu dengan tahanan lainnya. Dari satu kelas, ilmunya merambat ke seluruh blok,” ujarnya.

Menurutnya, sebanyak 25 Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah naungan Ditjenpas mulai dari Rutan, Lapas, Bapas, hingga LPKA harus bergerak seirama. “Lapas itu pembinaan di luar Lapas, Bapas itu pembinaan di luar Bapas. Semua punya peran,” katanya.

Ia menargetkan, bukan sekadar hafalan atau seremonial. Lulusan pesantren ini diharapkan benar-benar mampu menjadi imam, khatib masjid, hingga juga terampil memandikan jenazah.

“Saat mereka keluar dari rutan, mereka sudah siap mengabdi di kampung halaman masing-masing. Bahkan, kelas khusus ini akan memiliki sistem penilaian, ranking, dan ujian. Ibadah wajib dan sunah seperti tahajud serta salat duha akan diawasi dan dikontrol secara ketat dari pagi hingga pagi lagi,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....