Gunung Marapi Erupsi, Masyarakat Waspadai Hujan Abu
- 27 Jan 2026 00:35 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang: Gunung Marapi di Kabupaten Tanah Datar dan Agam kembali erupsi, 26 Januari 2026 pukul 11:11 WIB. Pos Pengamatan Gunungapi (PGA) di Kota Bukittinggi mencatat, kolom abu yang dilepaskan teramati mencapai ketinggian 600 meter di atas puncak atau sekitar 3.491 meter di atas permukaan laut.
Petugas PGA Marapi, Ahmad Rivandi menjelaskan, kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah timur laut. “Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30.4 milimeter dan berdurasi mencapai 34 detik,” katanya.
Ahmad mengungkapkan, sehari sebelumnya, Minggu, 25 Januari 2026, gunungapi setinggi 2.891 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu juga mengalami erupsi pada pukul 14.32 WIB. “Pada erupsi sehari sebelumnya, secara pengamatan visual kami di Pos tidak teramati, namun rekaman seismograf menunjukkan getaran yang dihasilkan beramplitudo maksimum 27,5 milimeter dan durasi sekitar 28 detik,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Badan Geologi, Lana Saria mengatakan, Gunung Marapi masih berstatus Level II atau Waspada. Ia mengimbau, masyarakat sekitar ataupun pendaki tidak melakukan kegiatan di dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas vulkanik Gunung Marapi atau dari Kawah Verbeek.
“Masyarakat yang bermukim di sekitar lembah atau bantaran aliran sungai-sungai yang berhulu di puncak Kawah Verbeek mewaspadai potensi bahaya lahar atau banjir lahar. Hal tersebut berpotensi terjadi terutama saat musim hujan,” kata Lana Saria.
Secara administratif, dijelaskan Lana, Gunung Marapi berada di dua daerah, yakni Kabupaten Agam dan Tanah Datar. Salah satu erupsi cukup dahsyat pernah terjadi pada 3 Desember 2023, dengan lontaran abu vulkanik mencapai 3 kilometer.
“Sejak awal Januari 2026, Badan Geologi mencatat Gunung Marapi sudah mengalami sembilan kali erupsi. Untuk mencegah dampak terhadap kesehatan, kami merekomendasikan agar masyarakat menggunakan masker penutup hidung dan mulut saat terjadi hujan abu vulkanik. Selain itu juga untuk menghindari gangguan saluran pernapasan (ISPA),” ujar Lana.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....