Dampak Teknologi Digital Terhadap Kebudayaan
- 25 Sep 2023 22:37 WIB
- Padang
KBRN, Padang: Merespon perubahan sosial masyarakat yang semakin larut dengan dunia digital, antroplogi sebagai bidang ilmu dituntut untuk beradaptasi atas berbagai perubahan tersebut. Hal itu, diungkapkan langsung Dr. Sri Setiawati MA pada Seminar Nasional dan Rapat Kerja Nasional Asosiasi Departemen atau Jurusan Antropologi Seluruh Indonesia (ADJASI) di Kota Padang, Senin (25/9/2023). Seminar mengusung tema Kebudayaan dan Digital, yang dihadiri perwakilan departemen dan Prodi Antropologi dari berbagai universitas di Indonesia .
Beberapa delegasi universitas yang hadir di antaranya Universitas Sumatera Utara, Universitas Negeri Medan, Universitas Malikusaleh, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, Universitas Udayana, Universitas Brawijaya, Universitas Cendrawasih, Universitas Papua, Universitas Samratulangi, Universitas Hasanuddin dan lainnya. Menghadirkan Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Hilmar Farid, Ph. D sebagai pembicara kunci. Kemudian tiga pembicara dari tiga universitas ternama di Indonesia yakni Prof. Irwan Abdullah (Universitas Gadjah Mada), Dr. Tasrifin Tahara (Universitas Hasanuddin), Prof. Nursyirwan Effendi dan Prof. Erwin (Universitas Andalas).
Hilmar Farid berharap kegiatan ini dapat mendorong akademisi dan peniliti dalam mengembangkan bidang kajiannya, mendiseminasikan temuan dan mempublikasikan hasil penelitiannya, serta mendukung pengayaan paradigma dan metodelogis pada bidang keilmuan antropologi. Apalagi ada tantangan tersendiri ketika mempelajari dunia digital yang saat ini, karena begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari.
"Saya yakin setiap kita terhubung dua atau lebih perangkat digital, seperti ponsel cerdas, komputer, laptop. Namun, saat bersamaan pengetahuan kita terhadap dunia digital secara teknis masih terbatas, dan ini penting upaya untuk mengenalkan kebudayaan dunia digital itu sendiri,” ucapnya.
Dikatakannya, ada 212 juta masyarakat terhubung dengan internet, media sosial 167 juta penguna dari berbagai platform seperti facebook, instagram, WhatsApp. Artinya saat ini setiap orang bisa mengikuti perkembangan yang terjadi betul-betul real time. Di samping itu, Ia menyampaikan lebih dari 34 persen remaja memiliki masalah mental, sebagian sudah pada taraf gangguan mental dan ini merupakan dampak teknologi digital terhadap kehidupan sosial budaya.
"Problem saat ini, kita belum punya mekanisme yang handal untuk menangani masalah ini semua. Dari 34 persen remaja yang mengalami masalah mental akibat gawai, hanya 2,6 persen yang mendapatkan layanan konseling. Padahal masalah ini terus bertambah setiap harinya tetapi belum punya mekanisme yang efektif untuk menangani persoalan yang muncul," ucapnya.
Hilmar berharap seminar bisa membahas lebih mendalam, membuka percakapan terkait langkah-langkah strategis. Hilmar mencoba berkontribusi dengan menyampaikan beberapa list strategi kebudayaan diantaranya perlu ada pendidikan universal terhadap teknologi digital, termasuk literasi media menghadapi hoaks, propaganda dan disinformasi. Kemudian pengakuan dan pelestarian budaya lokal, dokumentasi dan perlindungan kekayaan intelektual, pengembangan teknologi etis, komunitas dan dukungan sosial, serta kesehatan mental.
Sementara itu, Rektor Universitas Andalas Prof. Yuliandri menyampaikan pengembangan substansi keilmuan bidang antropologi itu adalah bagian yang secara akademik merupakan tanggung jawab bersama. Ia mengungkapkan ada satu tantangan yang dirasakan terutama dari kalangan perguruan tinggi yang menerima mahasiswa dari berbagai jalur khususnya departemen atau program studi Antropologi.
“Melalui kurikulum merdeka siswa tidak lagi diukur kompetensinya terkait apa yang dipelajari ketika di SMA atau sederajat, mereka tidak lagi terikat jurusan IPS. Mereka boleh lintas jurusan yang dikenal dengan merdeka bertanggung jawab,” pungkasnya
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....