Strategi Pulau Mandiri: Menjadikan Nelayan Pesisir Poros Utama Pertahanan

  • 11 Jun 2026 20:49 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Indonesia adalah raksasa kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau yang sah diakui dunia. Namun, bentangan garis pantai yang panjang ini menyimpan kerentanan strategis yang nyata. Menjawab tantangan tersebut, Pangkogabwilhan I, Letjen TNI Kunto Arief Wibowo menegaskan, pentingnya transformasi menuju konsep Pertahanan Pulau Mandiri, sebuah strategi yang memosisikan pulau-pulau besar dan strategis sebagai poros pertahanan yang otonom.

Bagi Letjen TNI Kunto Arief Wibowo yang dulunya pernah menjabat Danrem 032 Wirabraja, menjaga Indonesia bukan sekadar perkara menghitung jumlah personel atau memamerkan kecanggihan alutsista di garis depan. Di matanya, kedaulatan sejati justeru bermula dari riak kehidupan masyarakat di ribuan pulau terluar nusantara.

"Kita tidak bisa lagi menggunakan pendekatan usang yang serba terpusat. Setiap pulau strategis harus bertransformasi menjadi benteng yang mandiri, baik dari segi komando, operasi hingga ketahanan logistiknya," ujar Letjen TNI Kunto, Kamis, 11 Juni 2026.

Warisan Sejarah dan Jiwa Semesta

Konsep ini bukanlah hal baru, melainkan sebuah kesinambungan sejarah. Jenderal bintang tiga ini mengingatkan, sejak masa revolusi fisik hingga lahirnya Deklarasi Juanda 1957, kekuatan terbesar Indonesia terletak pada sistem pertahanan rakyatnya yang bersifat desentralistik dan spasial.

Melalui Jakkumhanneg dan amanat Perpres No. 8 Tahun 2021, komitmen historis tersebut kini diwujudkan secara modern. Berlandaskan Pancasila, UUD 1945, serta visi Wawasan Nusantara, pertahanan negara dirajut dengan menempatkan manusia sebagai inti kekuatan.

Menjadikan Rakyat sebagai Subjek Kebanggaan

Bagi Letjen TNI Kunto, pertahanan pulau mandiri tidak akan pernah terwujud tanpa sentuhan humanis pada sektor sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat lokal. Menurutnya, kesejahteraan rakyat adalah soft defense terbaik dalam menangkal infiltrasi asing maupun disinformasi.

"Masyarakat di pulau terluar tidak boleh hanya menjadi objek penonton, apalagi merasa terpinggirkan. Mereka adalah aktor utama. Kita harus membangun kekuatan diri (self-esteem) mereka agar bangga menjadi garda depan pengawal NKRI," jelas Pangkogabwilhan I tersebut.

Dalam analisisnya, jenderal yang dikenal dekat dengan rakyat ini memetakan beberapa pilar penting untuk membangun ekosistem pulau yang tangguh:

  • Ketahanan Dasar (Sustenance): Pulau-pulau strategis harus merdeka secara pangan, energi terbarukan, dan akses kesehatan secara mandiri agar tetap hidup meski dalam kondisi blokade atau krisis.

  • Kemandirian Ekonomi (Green & Blue Economy): Mengoptimalkan potensi maritim lewat modernisasi perikanan, diversifikasi ekonomi pesisir, dan pengelolaan pariwisata yang tidak merusak alam.

  • Konektivitas dan Infrastruktur: Membangun pelabuhan multifungsi (sipil-militer) dan jaringan komunikasi terpadu untuk mempercepat respons Kogabwilhan sebagai penindak awal ancaman.

Menjaga Identitas, Membela Negara

Strategi ini ditutup dengan pendekatan pendampingan sosial-budaya yang hangat. TNI, di bawah kepemimpinan operasional seperti Kogabwilhan, bergerak sinergis dengan pemerintah daerah dan kementerian terkait untuk menghidupkan kembali kearifan lokal seperti gotong royong dan tradisi bahari.

Melalui integrasi apik antara kesiapan militer Trimatra dan ketangguhan nirmiliter berbasis komunitas, Pertahanan Pulau Mandiri kini menjelma menjadi wajah baru bagi sistem pertahanan semesta Indonesia. Sebuah strategi modern yang tidak hanya menjaga tanah dan air, tetapi juga merawat martabat kemanusiaan di setiap jengkal pulau nusantara.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....