Bung Karno dan Malaria di Balik Proklamasi

  • 18 Agt 2025 18:24 WIB
  •  Padang

KBRN, Padang: Menjelang detik-detik bersejarah 17 Agustus 1945, Bung Karno justru harus berhadapan dengan kondisi tubuh yang tidak bersahabat karena diserang penyakit malaria tertiana yang membuat tubuhnya menggigil dan demam tinggi hingga mencapai 40 derajat Celcius. Situasi ini menjadi kontras karena di tengah sakit yang parah, ia tetap harus memimpin momentum terpenting dalam sejarah bangsa Indonesia.

Dokter pribadinya, dr. R. Soeharto, segera datang memeriksa dan memastikan bahwa Soekarno memang terserang malaria, lalu memberikan suntikan kina (chinine-urethan) serta obat broom-chinine untuk meredakan demam. Berkat pengobatan cepat itu, kondisi Bung Karno perlahan membaik meski tubuhnya masih terasa lemah.

Dalam biografi “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” karya Cindy Adams, ia sendiri menggambarkan bagaimana tubuhnya bergetar dari kepala hingga kaki saat berusaha menyelesaikan teks proklamasi. Namun, semangat yang membara untuk memerdekakan bangsa membuatnya tidak menyerah pada rasa sakit yang mendera.

Pagi harinya, setelah semalaman sakit dan mendapat perawatan, Bung Karno tampil dengan pakaian serba putih yang rapi untuk memimpin pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan. Meski masih belum pulih sepenuhnya, wibawa dan keteguhannya membuat suasana pembacaan proklamasi tetap khidmat dan bersejarah.

Fakta bahwa Bung Karno mampu membacakan proklamasi dalam kondisi tubuh sakit menunjukkan betapa kuat tekadnya untuk menunaikan amanah rakyat. Kisah ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bangsa tidak hanya lahir dari perjuangan senjata, tetapi juga dari ketabahan luar biasa seorang pemimpin dalam menghadapi cobaan pribadi di saat genting.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....