Filosofi dan Sejarah Keberadaan Randang, Makanan Khas Minangkabau

  • 29 Sep 2022 17:37 WIB
  •  Padang

KBRN, Padang: Selain terkenal akan keindahan alam dan keunikan budayanya, Indonesia juga memiliki keberagaman kulinernya yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dengan kekhasannya masing - masing. Saat ini banyak sekali makanan-makanan tradisional Indonesiayang tidak lagi hanya dikenal di dalam negeri tetapi juga sudah diketahui dan bahkan dicari oleh orang – orang belahan dunia lain. Salah satunya adalah Randang yang secara umum di Indonesia dikenal dengan nama rendang, makanan tradisional dari Minangkabau, Sumatera Barat. Randang bukanlah makanan yang muncul di abad modern ini, tetapi sudah ada dalam kehidupan masyarakat Minangkabau dari zaman nenek moyangnya dahulu yang telah diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi hingga saat ini.

Randang sesungguhnya bukanlah nama dari satu jenis makanan, melainkan output atau produk dari sebuah proses pengolahan makanan yang menggunakan santan dan mengolahnya sampai kering. Proses pengolahannya itu disebut marandang (me-randang), sebagaimana diungkapkan Viveri Yudi, Kasi Diplomasi Budaya Dinas Kebudayaan Propinsi Sumatera Barat dalam sebuah perbincangan dengan RRI Padang beberapa waktu yang lalu,

“Randang berasal dari bahasa Minangkabau. Ma-randang (me-rendang) dalam kosa kata bahasa Minang bermakna mengolah sesuatu bahan makanan dalam waktu yang lama dengan pengapian yang kecil sampai menjadi kering sehingga menjadi awet dan tahan lama", jelasnya . Ditambahkannya, bahan utama yang bisa di-randang itu beragam, bisa daging, lokan (sejenis kerang), telur, sayur – sayuran (biasanya pakis). Sehingga di Sumatera Barat muncullah jenis – jenis randang yang berbeda di beberapa daerah sesuai dengan potensi alam bahan – bahan utama dari randang yang ada di daerah tersebut. Maka ada daerah yang lebih dominan randang daging, randang belut, randang telur, randang paku (pakis) dan lain –lain.

Munculnya makanan randang pada masyarakat Minangkabau masa lalu ternyata juga mempunyai alasan yang berakar pada kearifan lokal nenek moyang dahulu dalam mempersiapkan lauk pauk yang berkualitas namun bisa awet dalam waktu yang lama. Ditambahkan oleh Viveri Yudi, setidaknya ada dua alasan munculnya makanan randang itu, pertama alasan persiapan untuk menjamu tamu dan yang kedua sebagai bekal perjalanan ketika pergi merantau, “Orang Minang itu selalu berusaha menjamu tamunya dengan makanan yang menarik dan enak tapi tahan lama. Nah karena dahulu pasar hanya ada seminggu sekali, mereka tidak bisa berbelanja tiap hari. Jadi mereka menciptakan makanan yang bisa disajikan kapanpun tamu datang. Selain itu, dahulu perjalanan ke perantauan itu memakan waktu lama. Maka untuk bekal makanan di perjalanan dan hari – hari pertama di rantau para ibu akan membekali anaknya dengan randang yang bisa awet sampai tiba di rantau dan tetap enak “, jelasnya.

Sementara itu menurut Musra Dahrizal Katik Rajo Mangkuto, salah seorang niniak mamak dan penggiat budaya Minangkabau, karena manfaat yang besar dari randang itu ditunjang oleh bumbu dan rempahnya yang beragam saling menyatu dalam satu wadah yang menggambarkan bahwa perpaduan dari berbagai elemen bisa menciptakan kebaikan, serta proses mengaduknya dengan cara mendorong dan menarik adonannya di dalam wajan di atas perapian yang butuh kesabaran. Nenek moyang orang Minang melihatnya sebagai sebuah filosofi kehidupan bahwa kebersamaan dan kesetaraan fungsi semua elemen masyarakat dalam kehidupan sosial dapat menciptakan kemashlahatan bersama. Ditambah lagi fungsi dan peran randang yang sangat besar dalam kehidupan social orang Minang, maka mereka menjadikan randang itu sebagai pangulu (penghulu) lauk pauk.,

Di dalam Alam Minangkabau ada empat pangulu, Pangulu Kaum adalah Niniak Mamak bergelar Datuak, Pangulu perempuan bernama Bundo Kanduang, pangulu kue adalah pinyaram, dan pangulu lauk pauk adalah randang “, ujar Musra Dahrizal. Akhirnya seiring waktu randang menjadi salah satu makanan adat, sehingga pada setiap acara – acara adat akan dijumpai randang sebagai jamba (hidangannya).

Kini Randang bukan lagi hanya sebagai makanan penjamu tamu, atau makanan perbekalan orang Minang untuk pergi merantau dan juga bukan hanya suguhan hidangan dalam acara – acara adat di Minangkabau yang sarat akan filosofi, melainkan sudah menjadi makanan terlezat di dunia setelah CNN Travel merilis 50 makanan terlezat di dunia, salah satunya adalah Randang. Dan randanglah yang terpilih menjadi makanan terlezat. (Hathwarman/AHM/RRI Padang)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....