Peran DAK Dibalik Kecantikan Geopark Batu Runcing
- 30 Jul 2025 12:15 WIB
- Padang
KBRN, Padang: Kota Sawahlunto di Provinsi Sumatera Barat yang terkenal sebagai kota tambang bersejarah, kini tengah menatap babak baru sebagai destinasi wisata berbasis warisan budaya dan geologi. Salah satu aset wisata yang mulai menarik perhatian adalah Geopark Batu Runcing (juga dikenal sebagai Batu Runciang), sebuah situs geologi yang memukau dan berpotensi besar untuk pengembangan ekowisata berkelas.
Formasi batu kapur yang ada di Batu Runcing diperkirakan berusia sekitar 299–300 juta tahun, terbentuk dari endapan laut dangkal pada masa karbon. Seiring waktu, proses tektonik yang berlangsung jutaan tahun lalu menyebabkan lapisan batuan ini muncul ke permukaan, menciptakan formasi runcing dan menjulang yang dramatis.
Keunikan ini menjadikan Batu Runcing sebagai contoh nyata kekayaan geologi Indonesia yang patut dilestarikan dan dikembangkan. Pada awalnya, kawasan ini hanya dikenal oleh para pendaki lokal sebagai lokasi berlatih panjat tebing. Namun seiring dengan upaya pelestarian dan pengembangan, kawasan ini mulai dipromosikan sebagai bagian dari jaringan Geopark Nasional Sawahlunto sebagai langkah menuju status UNESCO Global Geopark.
Daya tarik utama dari Batu Runcing terletak pada keindahan alamnya yang menakjubkan. Formasi batu kapur yang tajam dan menjulang memunculkan lanskap dramatis yang mengingatkan pada kawasan karst di Tiongkok atau Vietnam. Dari ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut, wisatawan dapat menikmati panorama hijau Bukit Barisan yang membentang luas, menambah pengalaman visual yang sangat memesona. Tidak hanya itu, kawasan ini juga menawarkan banyak spot foto yang instagramable, menarik minat generasi muda dan para pecinta alam untuk berkunjung dan mengeksplorasi.
Selain keindahan alamnya, Batu Runcing juga menawarkan pengalaman edukatif yang tinggi. Kawasan ini cocok untuk kegiatan pembelajaran geologi dan pelestarian alam, menjadikannya sebagai destinasi wisata edukasi yang menginspirasi. Aktivitas petualangan seperti panjat tebing, trekking ringan, dan camping menjadi pilihan yang menambah variasi kegiatan wisatawan. Dengan berbagai kegiatan seru ini, Batu Runcing mampu memberikan pengalaman wisata yang lengkap, menyenangkan, sekaligus mendidik.
Lokasinya yang strategis menjadi salah satu faktor pendukung utama daya tarik kawasan ini. Terletak di Dusun Sungai Cocang, Nagari Silungkang, Kecamatan Silungkang, hanya sekitar 30 menit berkendara dari pusat kota Sawahlunto, akses menuju kawasan ini sudah diperbaiki dan memudahkan wisatawan. Jalan yang memadai, area parkir yang luas, serta jalur pejalan kaki menuju titik utama kawasan membuat siapa saja dapat menikmati keindahan Batu Runcing tanpa kesulitan. Fasilitas ini merupakan hasil dari kerja keras pemerintah dan masyarakat setempat dalam mengembangkan kawasan ini sebagai destinasi wisata kelas dunia.
Pada Kamis, 17 Juli 2025, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Kanwil DJPB) Sumatera Barat, M. Dody Fachrruddin, melakukan kunjungan kerja ke Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Sijunjung dengan tujuan untuk melihat langsung kontribusi dan peran Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik dalam mendukung pembangunan infrastruktur di kawasan Sawahlunto. Kunjungan ini menjadi bagian dari agenda strategis untuk mengkaji secara langsung dampak serta manfaat dana tersebut dalam memperkuat destinasi wisata seperti Geopark Batu Runcing, serta mendukung pemulihan ekonomi masyarakat setempat pascapandemi COVID-19. Melalui kunjungan ini, tim Kanwil DJPB Sumatera Barat ingin memastikan bahwa alokasi dan pelaksanaan DAK Fisik memberikan dampak nyata dan optimal dalam pembangunan berkelanjutan di wilayah tersebut.
Pengembangan kawasan Batu Runcing semakin solid setelah adanya dukungan dana dari pemerintah pusat melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik. Pada tahun 2022, Pemerintah Kota Sawahlunto memperoleh Rp5 miliar yang dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur dasar seperti akses jalan, fasilitas sanitasi, musala, dan pagar pengaman.
Tahun berikutnya, tambahan dana sebesar Rp2,4 miliar kembali dikucurkan untuk memperkuat elemen pendukung seperti gerbang utama, area UMKM lokal, dan jalur interpretasi edukatif tentang geologi kawasan ini. Investasi ini terbukti berhasil mempermudah akses, meningkatkan kenyamanan pengunjung, serta mendorong keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan kawasan.

Kepala Kanwil DJPb Sumatera Barat, M. Dody Fachrruddin (kanan) saat mengunjungi Geopark Batu Runcing
Keberhasilan ini sejalan dengan semangat pembangunan berkelanjutan dan ekonomi hijau yang dianut pemerintah, yang ingin mendorong transisi dari ekonomi berbasis eksploitasi sumber daya alam ke arah ekonomi yang lebih ramah lingkungan. Pengembangan kawasan ini tidak hanya memberi manfaat ekonomi, tetapi juga mendukung visi konservasi dan pelestarian kekayaan geologi serta budaya lokal. Dengan demikian, Batu Runcing bukan sekadar ikon wisata, tetapi juga simbol keberhasilan strategi pembangunan berkelanjutan di daerah ini.
Akhirnya, pengembangan kawasan Geopark Batu Runcing menjadi contoh nyata bagaimana peran DAK Fisik mampu dimanfaatkan secara strategis untuk membangun infrastruktur wisata yang inklusif, berwawasan lingkungan, dan mampu memberi manfaat ekonomi jangka panjang. Dengan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat lokal, Batu Runcing yang dulunya hanya formasi batuan purba kini berubah menjadi ikon edukatif dan wisata yang mampu membawa harapan baru bagi masa depan ekonomi serta pariwisata Sumatera Barat. Melalui sinergi ini, kawasan ini diharapkan dapat terus berkembang dan menjadi kebanggaan daerah serta inspirasi bagi pembangunan wisata berkelanjutan di Indonesia.
Artikel ini ditulis: Jeffri Minton Gultom (Kasi Bank) dan Rahmat D.S (Fungsional PTPN)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....