Asam Lambung Ternyata Bukan Penyakit

  • 03 Mei 2024 20:12 WIB
  •  Padang

KBRN, RRI Padang : Selama ini banyak yang meyakini bahwa asam lambung adalah penyakit. Ternyata secara medis, asam lambung bukankah penyakit.

Asam lambung merupakan senyawa kimia yang terdiri dari asam klorida (HCl), kalium klorida (KCl) dan natrium klorida (NaCl). Cairan ini dihasilkan dalam rongga lambung atau gaster berfungsi mencerna dan menghancurkan makanan.

Menurut Dr. Rizky Putra Ismeldi dari RSUD Achmad Mochtar, normalnya asam lambung diproduksi secara berkelanjutan dan tidak akan menimbulkan gangguan jika produksi tersebut seimbang dengan makanan yang masuk ke lambung. Naiknya asam lambung ini dirasakan dengan sejumlah gejala, mulai dari rasa tidak nyaman, nyeri ulu hati, mual, rasa pahit di lidah dan sensasi terbakar hingga keadaan sulit menelan bahkan bau mulut.

Kondisi ini menandakan seseorang telah terkena kondisi yang disebabkan asam lambung. Asam lambung dapat menyebabkan beberapa penyakit pencernaan lainnya tergantung tingkat keparahannya.

“Penyakit akibat asam lambung itu banyak, mulai dari maag, Gerd, gastritis, tukak lambung atau ulkus peptikum, sindrom dispepsia atau kumpulan gejala hingga terparah dapat menyebabkan kanker lambung. Semua itu dibedakan dari level atau tingkat sakitnya”, ujar Dr.Rizky.

Ia mengatakan maag adalah penyakit paling sederhana, dimana lapisan dinding lambung menipis akibat digerus oleh asam lambung. Ketika dinding yang tadinya menipis mulai meradang mengakibatkan terjadinya Gastro Esopagheal Refluks Disease (Gerd).

Level ini diperparah dengan longgarnya sfingter atau katup pada lambung sehingga produksi asam lambung yang tidak seimbang akan naik atau refluks ke esophagus. Dinding lambung yang teriritasi terus menerus mengakibatkan peradangan parah bahkan bengkak dan menjadi tukak lambung, ditandai dengan sakit terus menerus atau persistent.

Setiap orang tentu beresiko terkena penyakit asam lambung. Pola hidup dan pola makan tidak teratur menjadi faktor penyebabnya.

Selama belum ada riwayat diagnosa, memang tidak ada larangan mengonsumsi makanan atau minuman tertentu. Lain halnya jika sebelumnya pernah menderita salah satu penyakit tersebut, penderita disarankan untuk tidak mengonsumsi makanan asam, pedas, bersantan, bahkan hingga makanan yang dibakar menggunakan arang.

“Pola makan yang diterapkan untuk menghindari penyakit ini, etiologi atau sebabnya harus dihindari. Frekuensi makan harus stabil dan konsisten, minimal makan 2 kali sehari tiap 6 atau 8 jam. Tingkat kecepatan produksi asam lambung pun dipengaruhi hal lain seperti stress, kurang tidur dan kurang istirahat. Artinya pola kerja, pola tidur dan istirahat memang perlu diperhatikan”, tambah Dr. Rizky.

Melalui pola makan yang teratur, serta manajemen stres yang baik dan istirahat yang cukup adalah kunci untuk bisa meminimalisir terserang asam lambung.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....