Pentingnya Literasi Kesehatan untuk Cegah Kanker Kepala Leher

  • 23 Jul 2026 12:42 WIB
  •  Padang
Poin Utama
  • Indonesia menempati urutan kedua dunia untuk kasus kanker nasofaring, di mana RSUP Dr. M. Djamil Padang sendiri menangani 100–200 kasus per tahun.
  • Secara global terdapat lebih dari 900 ribu kasus baru setiap tahun dengan tingkat kematian melampaui 50 persen.
  • Dipicu oleh kebiasaan merokok, konsumsi makanan diawetkan/bergaram tinggi, paparan zat kimia, serta infeksi virus Epstein-Barr.

RRI.CO.ID, Padang - Ancaman kanker kepala dan leher kini menjadi perhatian serius tenaga medis Rumah Sakit Umum Pusat Dr. M. Djamil Padang. Data medis menunjukkan penyakit ganas ini mencatatkan lebih dari 900 ribu kasus baru secara global pada setiap tahunnya.

Parahnya lagi, tingkat kematian akibat serangan keganasan jaringan tubuh tersebut diperkirakan telah melampaui angka 50 persen. Indonesia saat ini menempati posisi kedua insiden tertinggi di dunia untuk kategori kanker nasofaring setelah negara Tiongkok.

Rumah Sakit Umum Pusat Dr. M. Djamil Padang sendiri menangani hingga 200 kasus setiap tahunnya. Penyakit mematikan ini menyerang berbagai struktur anatomi penting seperti rongga hidung, mulut, hingga area pita suara.

Sebagian besar pasien di Sumatera Barat sayangnya baru datang berobat ketika kondisi kanker sudah memasuki stadium lanjut. Narasumber program Obrolan Kesehatan, Dr. dr. Donny Hendriyanto, SpTHT-BKL mengungkapkan keprihatinannya atas keterlambatan penanganan pasien.

Banyak warga mengabaikan gejala awal seperti hidung tersumbat sebelah dan mimisan ringan yang muncul secara berulang. Pola hidup tidak sehat seperti kebiasaan merokok dan konsumsi makanan diawetkan menjadi faktor pemicu utama keganasan ini.

Selain itu, infeksi virus Epstein-Barr serta paparan zat kimia di lingkungan kerja turut mempertinggi risiko penyakit. Kondisi keterlambatan penanganan medis ini sangat erat kaitannya dengan tingkat literasi kesehatan masyarakat yang masih rendah.

Badan Pusat Statistik Sumatera Barat mencatat indeks literasi masyarakat daerah ini baru mencapai angka 68,5 persen. Rendahnya pemahaman informasi kesehatan membuat warga kerap menganggap remeh benjolan kecil yang tumbuh pada daerah leher.

Padahal, penemuan tumor pada stadium dini melalui metode radioterapi mampu memberikan peluang kesembuhan jauh lebih besar. Masyarakat diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan yang menetap selama dua minggu.

Langkah deteksi dini melalui pemeriksaan endoskopi hidung sangat efektif untuk menyelamatkan nyawa serta organ tubuh pasien. Edukasi mengenai bahaya perokok pasif juga terus digalakkan guna menekan jumlah penderita baru di Ranah Minang.

Pihak rumah sakit berkomitmen memperluas jangkauan sosialisasi hingga ke wilayah pelosok kabupaten dan kota setempat. Peringatan Hari Kanker Kepala dan Leher Sedunia yang diperingati setiap tanggal 27 Juli diharapkan menjadi momentum kebangkitan kesadaran hidup sehat bagi warga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....