Stunting di Sumbar Mengalami Kenaikan 1,9 Persen

  • 27 Jan 2023 14:27 WIB
  •  Padang

KBRN, Padang: Prevelansi stunting di Sumatera Barat (Sumbar) 2022 ternyata meningkat dibanding tahun 2021. Berdasar Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), angka stunting Sumbar 2022 menjadi 25,2 persen naik 1,9 persen dibanding tahun 2021 lalu yang mencapai 23,3 persen.

Menyikapi persentase dimaksud, Pemerintah Provinsi Sumbar menggelar rapat koordinasi percepatan penurunan stunting pada Jumat (27/1/2023) bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Badan Pusat Statistik, SSGI, dan Dinas Kesehatan seluruh kabupaten/kota. Rapat dipimpin langsung Wakil Gubernur Sumbar, Audy Joinaldy.

Menurut Audy peningkatan prevalensi stunting menjadi pertanyaan besar. Sebab dari sumber data yang sama terpetakan 13 dari 19 kabupaten dan kota di Sumbar tercatat berhasil menurunkan angka stunting.

“Contohnya, prevelansi stunting di Kota Sawahlunto bahkan telah menyentuh angka 13,7 persen dan mencapai target prevelansi stunting nasional di angka 14 persen. Ditambah lagi Kabupaten Pasaman Barat yang sebelumnya mendapat penghargaan dan menjadi percontohan nasional sebagai kabupaten paling respon dalam program penurunan stunting juga mengalami kenaikan angka prevelansi stunting sebesar 11,5 persen. Maka di awal tahun ini, masih bulan Januari kita ajak semua stakeholder terkait berkumpul, kita cari solusi," kata Wagub Audy.

Terlepas dari kenaikan angka prevalensi stunting, menurut Audy, sudah menjadi kewajiban bagi pemerintah daerah melakukan intervensi untuk menurunkan stunting. Koordinasi dan komunikasi tenaga kesehatan di seluruh lini harus ditingkatkan karena mereka menjadi tumpuan penanganan stunting di daerah.

“Intervensi yang harus dilakukan di antaranya pemberian pil penambah darah terkhusus pada ibu hamil. Kemudian peningkatan konsumsi protein hewani pada anak di seluruh Sumbar. Ini PR besar kita bersama-sama pada tahun ini mumpung masih di awal tahun. Kita perkuat koordinasi dan komunikasi, terutama dengan dokter, bidan, puskesmas yang akan menjadi tumpuan,” ujarnya.

Sementara itu, berkaitan dengan hasil prevalensi stunting dari SSGI, Ketua SSGI Sumbar Gusnaidi menyatakan, survei dilakukan dengan mengambil sampel secara random pada 1123 blok sensus di 19 kabupaten dan kota. Pada masing-masing blok terdapat 10 rumah tangga yang di data. Jumlah sampel ini juga meningkat hampir tiga kali lipat dibanding tahun 2021 lalu.

"Jumlah sudah dipastikan secara statistik memenuhi persyaratan untuk menggambarkan kondisi. Margin of error di bawah 5 persen dan relative standard error maksimal 25 persen," ucapnya.

Walau begitu, Gusnaidi menyampaikan kelemahan metode sampling tetap ada. Karena dilakukan secara acak pada blok sensus yang sama sekali berbeda dengan tahun sebelumnya. Bisa saja sampel yang terambil dominan berasal dari daerah-daerah yang menjadi lokus-lokus stunting, sehingga fluktuatif hasil data sampling menjadi hal lumrah.

Adapun hasil survey SSGI mencatat angka persentase prevelansi stunting dari yang terendah hingga tertinggi di Sumbar yaitu, Sawahlunto 13,7 persen, Padang Panjang 16,8 persen, Bukittinggi 16,8 persen. Lalu Kota Payakumbuh 17,8 persen, Kota Solok 18,1 persen, Pariaman 18,4 persen, Tanah Datar 18,9 persen. Kemudian Kota Padang 19,5 persen, Kabupaten Solok 24,2 persen, Limapuluh Kota 24,3 persen, Agam 24,6 persen. Selanjutnya Kabupaten Dharmasraya 24,6 persen, Padang Pariaman 25persen, Pasaman 28,9 persen, Pesisisr Selatan 29,8 persen, Sijunjung 30 persen, Solok Selatan 31,7 persen, Kepulauan Mentawai 32 persen dan Pasaman Barat 35,5 persen.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....