Batasi Akses Gawai Anak, Bukan Melarang tapi Membimbing

  • 29 Agt 2026 18:12 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang – Gawai telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak, baik untuk belajar, berkomunikasi maupun mencari hiburan. Namun, penggunaan yang tidak terarah perlu mendapat perhatian orang tua agar waktu anak dengan layar tidak mengurangi kesempatan untuk bermain, bergerak, beristirahat, belajar, dan berinteraksi langsung dengan keluarga.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan aktivitas berbasis layar sebagai bagian dari perilaku sedentari dan memberikan rekomendasi pembatasan waktu layar terutama bagi anak usia di bawah lima tahun. WHO menekankan pentingnya keseimbangan antara aktivitas fisik, waktu sedentari, dan tidur untuk mendukung kesehatan serta tumbuh kembang anak.

Pembatasan penggunaan gawai juga tidak semata-mata bertujuan menjauhkan anak dari teknologi. American Academy of Pediatrics (AAP) melalui panduan yang diperbarui pada 2026 mendorong keluarga untuk melihat penggunaan media secara lebih menyeluruh, termasuk mempertimbangkan kualitas konten, konteks penggunaan, usia anak, serta komunikasi antara orang tua dan anak.

Artinya, orang tua tidak cukup hanya mengatakan “jangan main HP”, tetapi perlu membuat aturan yang jelas mengenai kapan, di mana, dan untuk apa gawai digunakan. AAP merekomendasikan keluarga membuat family media plan yang mengatur penggunaan perangkat sekaligus memastikan tetap tersedia waktu untuk aktivitas keluarga, tidur, belajar, dan kegiatan tanpa layar.

Salah satu langkah sederhana yang dapat diterapkan adalah menetapkan waktu dan tempat bebas gawai, misalnya ketika makan bersama, menjelang tidur, atau saat keluarga sedang melakukan aktivitas bersama. Orang tua juga perlu memberikan contoh karena kebiasaan anak dalam menggunakan perangkat tidak dapat dipisahkan dari bagaimana orang dewasa di sekitarnya menggunakan perangkat tersebut.

Pembatasan juga perlu disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak karena penggunaan media pada balita tentu berbeda dengan anak usia sekolah maupun remaja. AAP pada 2026 menggunakan pendekatan berbasis usia melalui konsep 5 C's untuk membantu orang tua membangun kebiasaan digital yang sehat tanpa hanya berfokus pada jumlah menit yang dihabiskan di depan layar.

Selain durasi, orang tua perlu memperhatikan apa yang dikonsumsi anak melalui gawainya. Konten yang sesuai usia, aman, dan memiliki nilai edukatif dapat memberikan manfaat, sementara penggunaan tanpa pendampingan dapat membuat anak terpapar konten yang tidak sesuai atau menghabiskan waktu secara berlebihan.

Anak juga perlu diberikan alternatif yang menarik ketika waktu menggunakan gawai dibatasi. Bermain di luar rumah, membaca, menggambar, berolahraga, membantu pekerjaan sederhana di rumah, atau berbincang bersama keluarga dapat menjadi aktivitas pengganti yang membantu anak tetap aktif dan memperoleh pengalaman langsung.

Pada akhirnya, membatasi akses gawai bukan berarti orang tua harus memusuhi teknologi atau sepenuhnya melarang anak menggunakannya. Tujuannya adalah membantu anak belajar bahwa teknologi merupakan alat yang dapat digunakan secara bermanfaat, tetapi tetap harus memiliki batas agar tidak mengambil alih waktu yang seharusnya digunakan untuk tumbuh, belajar, bergerak, beristirahat, dan membangun hubungan dengan orang lain.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....