Flexing Prestasi Anak Bisa Picu Stres Akademik, Orang Tua Diminta Waspada

  • 03 Agt 2026 11:20 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Di era media sosial, membagikan prestasi anak menjadi hal yang lumrah dilakukan orang tua yang kerap dikenal dengan istilah “flexing” prestasi anak. Istilah itu sempat viral dan menjadi pro dan kontra di masyarakat.

Namun di balik kebanggaan tersebut, tersimpan risiko yang kerap luput disadari. Ketika kebanggaan berubah menjadi ekspektasi yang harus dipenuhi, anak dapat mengalami tekanan psikologis yang berujung pada stres akademik.

Fenomena itu menjadi perhatian Guru Besar Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Padang (UNP), Prof. Dr. Zadrian Ardi yang selama beberapa tahun terakhir mengembangkan kajian mengenai stres akademik dan model layanan konseling bagi mahasiswa. Menurutnya, stres akademik tidak semata-mata muncul karena banyaknya tugas kuliah atau tuntutan memperoleh nilai tinggi.

Berdasar kajian dan penanganan kasus yang dilakukan, stres akademik memiliki sejumlah indikator, di antaranya tekanan terhadap tugas kuliah, tuntutan memperoleh nilai yang baik, ketakutan akan kegagalan, serta ekspektasi yang tinggi dari diri sendiri maupun keluarga. Kondisi tersebut sering kali tidak disadari karena banyak mahasiswa memilih memendam tekanan yang mereka alami dibandingkan menceritakannya kepada orang lain.

“Orang tua punya ekspektasi tertentu pada anak, sementara anak tidak memahami ekspektasi itu seperti apa. Ketika komunikasi tidak berjalan, kondisi tersebut dapat menjadi tekanan bagi anak,” ujarnya, Senin, 3 Agustus 2026.

Berdasar pengalamannya mendampingi mahasiswa di Laboratorium Bimbingan dan Konseling UNP, Zadrian menemukan bahwa tekanan akademik tidak hanya dialami mahasiswa yang memiliki kemampuan akademik rendah. Sebaliknya, banyak mahasiswa sebenarnya mampu menyelesaikan studi, tetapi terjebak dalam tekanan untuk memenuhi harapan orang tua maupun target yang mereka tetapkan sendiri.

Bahkan, dalam beberapa kasus mahasiswa terlambat lulus karena takut mengungkapkan kondisi sebenarnya kepada keluarga. “Ada yang mengaku sudah mengerjakan skripsi. Padahal belum memulainya sama sekali karena khawatir mengecewakan orang tua,” tutur guru besar termuda UNP dengan bidang kepakaran Teknologi dan Media dalam Bimbingan dan Konseling.

Ia juga menyebut, sebagian mahasiswa yang datang ke layanan konseling telah mengalami tekanan mulai dari tingkat ringan hingga berat. Bahkan, terdapat mahasiswa yang mengonsumsi obat tidur maupun obat psikiatri akibat tekanan akademik yang terus menumpuk dan tidak tertangani sejak dini.

Kondisi seperti ini menunjukkan pentingnya deteksi dan pendampingan sejak fase awal agar stres akademik tidak berkembang menjadi depresi maupun gangguan psikologis lainnya. Kebiasaan menunda pekerjaan atau procrastination juga menjadi salah satu penyebab meningkatnya stres akademik.

“Tugas yang terus ditunda akan menumpuk dan pada akhirnya memperbesar tekanan yang dirasakan mahasiswa. Karena itu, kemampuan mengelola waktu dan strategi menghadapi tekanan (coping strategy) menjadi bagian penting dalam mencegah stres akademik,” ucapnya.

Ia menjelaskan, saat ini tekanan tersebut semakin diperkuat oleh budaya media sosial. Orang tua memang wajar merasa bangga atas pencapaian anaknya. Namun, ketika prestasi anak terus dipamerkan atau dijadikan tolok ukur keberhasilan, anak dapat merasa harus selalu memenuhi harapan tersebut.

“Semua orang tua pasti bangga dengan anaknya. Dulu mungkin flexing hanya diketahui tetangga sekitar, sekarang bisa dilihat seluruh dunia melalui media sosial,” katanya.

Menurutnya, yang perlu dihindari bukanlah membagikan kebanggaan terhadap anak, melainkan ketika hal itu berkembang menjadi kebiasaan membandingkan anak dengan orang lain atau menuntut mereka memenuhi standar tertentu. “Jangan sampai anak terbebani. Membandingkan anak dengan anak lain atau menjadikan capaian orang lain sebagai ukuran keberhasilan dapat menjadi beban psikologis,” ucapnya.

Untuk membantu mahasiswa menghadapi tekanan tersebut, timnya mengembangkan model konseling daring yang diawali dengan pendekatan Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologis. Pendekatan ini dirancang agar mahasiswa yang mulai mengalami tekanan dapat memperoleh bantuan sejak fase awal, sehingga masalah yang dihadapi tidak berkembang menjadi gangguan psikologis yang lebih berat.

Zadrian menekankan bahwa komunikasi menjadi kunci utama. Orang tua tetap boleh memiliki harapan terhadap anak. Kendati demikian, harus memahami kemampuan anak dan memberikan ruang untuk berdialog mengenai proses yang sedang dijalani.

“Lebih banyaklah bertanya tentang perkembangan anak, dengarkan apa yang mereka alami, lalu berikan penguatan ketika mereka menunjukkan kemajuan. Ekspektasi boleh ada, tetapi jangan sampai berubah menjadi tekanan,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....