BRIN Gandeng UBH Selamatkan Warisan Maritim Pulau Cingkuak

  • 29 Jul 2026 17:39 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta (UBH), Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, serta Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah III menuntaskan penelitian pelindungan Situs Benteng VOC dan Dermaga Kona di Pulau Cingkuak serta Bangkai Kapal M.V. Boelongan di Teluk Mandeh. Penelitian kolaboratif yang berlangsung sejak Juni 2026 itu menghasilkan data ilmiah sebagai dasar penyusunan strategi konservasi warisan budaya maritim berbasis bukti (evidence-based policy).

Penelitian tersebut didanai melalui Rumah Program Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR ARBASTRA) BRIN Batch I dengan tema Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan. Tim peneliti melibatkan Orfi Johan dari BRIN bersama dosen Program Studi Magister Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Kelautan UBH, Harfiandri Damanhuri.

Harfiandri Damanhuri menjelaskan Pulau Cingkuak merupakan kawasan cagar budaya yang menyimpan tinggalan Benteng VOC, dermaga kuno, dan loji dagang pertama VOC di pantai barat Sumatra. Sementara itu, Bangkai Kapal M.V. Boelongan di Teluk Mandeh menjadi salah satu tinggalan arkeologi bawah laut yang memiliki nilai sejarah sekaligus nilai ekologis yang tinggi.

"Secara ilmiah, kedua situs tersebut merupakan laboratorium alam yang merekam sejarah perdagangan, pelayaran, dinamika pesisir, serta interaksi manusia dengan lingkungan laut selama ratusan tahun. Informasi tersebut sangat penting untuk merekonstruksi sejarah maritim Indonesia sekaligus mendukung pengelolaan kawasan pesisir secara berkelanjutan," ujar Harfiandri Damanhuri, Selasa, 29 Juli 2026.

Hasil penelitian menunjukkan perubahan iklim, abrasi pantai, aktivitas kegempaan, dan pelapukan alami menjadi ancaman utama terhadap struktur Benteng VOC di Pulau Cingkuak. Menurut Harfiandri, tanpa langkah mitigasi yang tepat, kerusakan tersebut berpotensi menghilangkan data arkeologi yang tidak dapat dipulihkan kembali.

Pada Situs Bangkai Kapal M.V. Boelongan, sebagian struktur kapal telah tertutup sedimen pada kedalaman sekitar 16 hingga 25 meter. Namun, penelitian menemukan bangkai kapal tersebut telah berkembang menjadi habitat terumbu karang, karang lunak, serta berbagai jenis ikan karang yang menunjukkan tingginya nilai ekologis kawasan Teluk Mandeh.

Tim peneliti merekomendasikan pengembangan Pulau Cingkuak dan Teluk Mandeh sebagai Marine Eco Archaeological Park yang mengintegrasikan konservasi, penelitian, pendidikan, dan pariwisata berkelanjutan. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi rujukan pemerintah dalam menyusun kebijakan pelindungan situs maritim berbasis riset, sekaligus memperkuat komitmen Universitas Bung Hatta dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDGs 4, SDGs 14, dan SDGs 17 melalui kolaborasi riset yang bermanfaat bagi masyarakat dan kelestarian lingkungan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....