Riset Unand Hadirkan Pangan Fungsional Dukung Pertumbuhan Tulang Sehat

  • 21 Jul 2026 01:29 WIB
  •  Padang
Poin Utama
  • Universitas Andalas mengembangkan inovasi pangan fungsional menggunakan tepung kacang lima dan tepung ikan patin untuk mengatasi gangguan pertumbuhan tulang akibat kekurangan protein.
  • Penelitian ini merupakan bagian dari Program Riset Kolaborasi Indonesia–EQUITY World Class University 2025–2026 yang didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
  • Riset dipimpin oleh Rita Maliza, Ph.D. dari Departemen Biologi FMIPA Unand melibatkan kolaborator dari Universitas Negeri Padang dan Universitas Ahmad Dahlan, menggunakan model tikus Wistar jantan.

RRI.CO.ID, Padang - Universitas Andalas (Unand) mengembangkan inovasi pangan fungsional berbahan tepung kacang lima (Phaseolus lunatus) dan tepung ikan patin untuk mendukung pemulihan gangguan pertumbuhan tulang akibat kekurangan protein. Penelitian tersebut merupakan bagian dari Program Riset Kolaborasi Indonesia–EQUITY World Class University 2025–2026 yang didanai Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Riset ini dipimpin Rita Maliza, Ph.D. dari Departemen Biologi FMIPA Unand bersama dr. Tofrizal, Dr. Dwi Hilda Putri dari Universitas Negeri Padang, serta apt. Lalu Muhammad Irham dari Universitas Ahmad Dahlan. Rita mengatakan penelitian dilakukan menggunakan tikus Wistar jantan yang terlebih dahulu diberikan diet rendah protein sebelum mendapat intervensi kombinasi tepung kacang lima dan tepung ikan patin selama empat minggu.

"Melalui penelitian ini, kami ingin mengeksplorasi potensi dua bahan pangan lokal, yaitu kacang lima dan ikan patin, sebagai pangan fungsional yang dapat membantu memperbaiki gangguan pertumbuhan akibat defisiensi protein. Kacang lima mengandung protein nabati dan senyawa bioaktif, sedangkan ikan patin merupakan sumber protein hewani berkualitas tinggi yang kaya asam amino esensial untuk pertumbuhan," ucapnya, Senin, 20 Juli 2026.

Menurut Rita, penelitian tersebut berangkat dari tingginya perhatian terhadap dampak kekurangan protein yang dapat menghambat pertumbuhan tubuh dan mengganggu pembentukan tulang. Kondisi itu juga memengaruhi perkembangan lempeng pertumbuhan yang berperan penting dalam proses pertambahan tinggi badan.

"Hasil penelitian menunjukkan kombinasi kedua bahan pangan ini mampu memperbaiki sejumlah indikator pertumbuhan tulang yang terganggu akibat kekurangan protein. Namun, temuan tersebut masih berada pada tahap praklinis sehingga diperlukan penelitian lanjutan, termasuk uji klinis pada manusia, untuk memastikan keamanan, efektivitas, dan dosis yang tepat sebelum diterapkan sebagai bagian dari penanganan gangguan pertumbuhan, termasuk stunting," ujarnya.

Rita menyebutkan hasil penelitian memperlihatkan adanya perbaikan pada struktur lempeng pertumbuhan serta peningkatan ketebalan tulang dibandingkan kelompok yang tidak memperoleh intervensi. Temuan ini juga menunjukkan potensi pemanfaatan bahan pangan lokal sebagai alternatif inovasi pangan fungsional yang bernilai gizi tinggi dan mudah diperoleh di Indonesia.

"Melalui penelitian ini, Unand turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan, SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, serta SDG 17 mengenai Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Kolaborasi antarpeneliti dari berbagai perguruan tinggi diharapkan mampu menghasilkan inovasi pangan yang berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat," tuturnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....