Unand Ciptakan Nanomaterial Inovatif untuk Atasi Resistensi Antibiotik Diabete
- 24 Jul 2026 00:03 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - Universitas Andalas (Unand) berhasil mengembangkan inovasi nanomaterial ramah lingkungan berbasis rumput laut Caulerpa lentillifera sebagai upaya menghadapi meningkatnya ancaman resistensi antibiotik. Inovasi tersebut juga memiliki potensi sebagai terapi penyembuhan luka diabetes yang selama ini sulit pulih akibat infeksi dan terganggunya regenerasi jaringan.
Penelitian tersebut dipimpin oleh Prof. Dr. Yetria Rilda bersama Dr. Syukri dan Dr. T. Chellapandi. Tim peneliti mengembangkan nanokomposit Yttria/Zinc Oxide/Silver Oxide (Y₂O₃/ZnO/Ag₂O atau YZA) dengan memanfaatkan ekstrak rumput laut Caulerpa lentillifera sebagai bahan alami dalam proses sintesisnya.
Yetria mengatakan berdasarkan hasil pengujian laboratorium, nanomaterial YZA mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa yang kerap menyebabkan infeksi pada luka kronis. Material tersebut juga memiliki aktivitas antioksidan, antiinflamasi, dan antidiabetik sehingga berpotensi mempercepat proses penyembuhan luka, khususnya pada penderita diabetes.
Ia menyampaikan riset ini merupakan langkah menghadirkan solusi kesehatan inovatif dengan memanfaatkan kekayaan hayati Indonesia. Resistensi antibiotik merupakan tantangan global yang membutuhkan pendekatan baru dalam pengembangan terapi.
"Melalui pemanfaatan rumput laut Caulerpa lentillifera, kami berhasil menghasilkan nanomaterial multifungsi yang tidak hanya memiliki aktivitas antibakteri, tetapi juga menunjukkan potensi sebagai antioksidan, antiinflamasi, dan antidiabetik. Harapannya, inovasi ini dapat menjadi langkah awal dalam pengembangan biomaterial medis yang lebih aman, efektif, dan berkelanjutan berbasis sumber daya hayati Indonesia," ucapnya, Senin, 20 Juli 2026.
Prof. Yetria menjelaskan pemanfaatan rumput laut lokal sebagai bahan utama memberikan nilai tambah bagi komoditas kelautan Indonesia sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor. Menurutnya, nanomaterial YZA berpeluang dikembangkan menjadi bahan aktif balutan luka modern, gel penyembuh luka diabetes, pelapis alat kesehatan antimikroba, hingga bahan baku antibiotik generasi baru berbasis nanoteknologi.
Prof. Yetria menegaskan penelitian tersebut masih berada pada tahap praklinis sehingga belum dapat diterapkan kepada manusia. "Inovasi ini masih berada pada tahap penelitian praklinis. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lanjutan agar keamanan dan efektivitasnya benar-benar dapat dipastikan sebelum dikembangkan menjadi produk kesehatan yang siap digunakan masyarakat," ujarnya.
Secara keseluruhan kata Yetria, hasil penelitian ini menunjukkan potensi besar nanomaterial berbasis rumput laut sebagai alternatif pengembangan terapi infeksi dan penyembuhan luka diabetes. Temuan tersebut diharapkan menjadi landasan bagi penelitian lanjutan sekaligus memperkuat pengembangan teknologi kesehatan berbasis sumber daya hayati Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....