Berburu Pengetahuan Langit di Kubah UIN Bukittinggi
- 12 Jul 2026 13:35 WIB
- Padang
Poin Utama
- Observatorium UIN Bukittinggi ini merupakan pusat pemantauan antariksa pertama dan satu-satunya di Sumatra Barat hingga pertengahan tahun 2026.
- Fasilitas ini memiliki 1 unit teleskop permanen canggih di dalam kubah yang bisa dioperasikan secara langsung maupun lewat sistem remote.
- Ke depan, pihak pengelola membuka peluang kolaborasi erat dengan lembaga serta komunitas sains untuk memicu gairah literasi antariksa di masyarakat luas.
RRI.CO.ID, Padang - Kubah perak di lantai empat Gedung Laboratorium Terpadu Kampus UIN Bukittinggi tampak berkilau diterpa terik matahari siang. Di balik dinding beton tersebut, tersimpan sebuah ruang observasi astronomi modern pertama yang beroperasi di wilayah Sumatra Barat.
Suasana sunyi di lantai atas kampus itu mendadak riuh oleh kedatangan rombongan pencinta langit malam pada Kamis, 9 Juli 2026 lalu. Komunitas Astronomi Sumatra Barat sengaja datang berkunjung demi menjalin tali silaturahmi sekaligus belajar memosisikan instrumen peneropong bintang.
Mereka disambut langsung oleh Kepala Observatorium UIN Bukittinggi, Dr. Arifmiboy, S.Ag., M.Pd. yang tampak antusias membagikan beragam cerita menarik. Ia menjelaskan bahwa fasilitas canggih ini dibangun untuk menghormati ulama sekaligus tokoh ilmu falak, Syekh Muhammad Djamil Djambek.
Langkah kaki para peserta kemudian tertuju pada sebuah ruang bundar yang menyimpan teleskop utama di dalam kubah. Perangkat canggih seberat ratusan kilogram tersebut ternyata bisa dikendalikan secara langsung maupun lewat sistem jarak jauh jarak jauh.
| Baca juga: Pengamatan Hilal Tua dari Menara Masjid Raya |
Selain mengandalkan 1 teleskop permanen, ruang observasi ini juga menyediakan 2 unit teleskop portabel yang digerakkan manual. Berbagai instrumen pelacak posisi benda langit juga disiapkan untuk membantu kelancaran praktikum pengamatan hilal bagi para mahasiswa.
Saat ini pihak pengelola kampus memang masih memprioritaskan seluruh fasilitas tersebut untuk mendukung kegiatan akademik Fakultas Syariah. Mahasiswa diajak turun langsung ke lapangan guna mempraktikkan teori penentuan awal bulan Hijriah menggunakan metode sains modern.
Ketua Komunitas Astronomi Sumatra Barat, Fauzan, memberikan apresiasi mendalam atas kesempatan langka melihat isi ruang observasi pertama tersebut.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada Observatorium UIN Bukittinggi atas sambutan yang sangat hangat," tutur Fauzan dengan wajah berseri.

Pengalaman berharga melihat langsung cara kerja peralatan astronomi modern membuat para anggota komunitas merasa sangat bersyukur sore itu.
"Kunjungan ini memberikan banyak pengalaman baru bagi kami, terutama dalam mempelajari berbagai instrumen observasi yang dimiliki observatorium," tambahnya.
Tidak hanya urusan teori dan sains, para pencinta astronomi juga disuguhi pemandangan alam yang sangat memanjakan mata.
"Selain dapat melihat fasilitas astronomi, kami juga menikmati pemandangan Kota Bukittinggi yang sangat indah dari rooftop observatorium," lanjutnya.
Hingga pertengahan tahun 2026 ini, fasilitas tersebut masih memegang status sebagai satu-satunya pusat pemantauan antariksa di Sumatra Barat. Berdasarkan rilis resmi pihak komunitas, keberadaan tempat ini diharapkan mampu memicu gairah literasi sains bagi masyarakat luas.
Fasilitas akademik tersebut diproyeksikan tidak hanya menjadi tempat kuliah, melainkan berkembang menjadi pusat penelitian astronomi yang diakui. Kolaborasi erat dengan berbagai lembaga dan komunitas sains juga terus dirancang demi memperluas jangkauan edukasi publik ke depan.
Sore itu kunjungan ditutup dengan sesi foto bersama berlatar pemandangan Gunung Marapi yang berdiri gagah di kejauhan. Langkah kaki para pencinta langit pun beranjak pulang membawa sejuta cerita baru tentang keindahan semesta dari Bukittinggi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....