Wako Pariaman Paparkan Model Edutourism di Forum Pendidikan Internasional ASEAN
- 12 Jul 2026 17:51 WIB
- Padang
RRI,CO.ID, Pariaman - Wali Kota Pariaman, Wali Kota Pariaman Yota Balad, menjadi satu-satunya kepala daerah dari Indonesia yang tampil sebagai pembicara dalam International Education Forum 2026 di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta, Sabtu 11 Juli 2026. Dalam forum itu, Yota memperkenalkan konsep The Pariaman Edutourism Model sebagai strategi memperluas peluang kolaborasi pendidikan dan pertukaran mahasiswa.
International Education Forum 2026 yang mengusung tema "Equitable Accessibility: Broadening the Opportunities to Higher Education in ASEAN" atau Aksesibilitas yang Berkeadilan: Memperluas Peluang Pendidikan Tinggi di ASEAN itu diikuti pemangku kepentingan pendidikan tinggi dari kawasan ASEAN.
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Education Malaysia Global Services (EMGS) bekerja sama dengan Universiti Kuala Lumpur (UniKL) sebagai bagian dari rangkaian program "Ayo Kuliah di Malaysia".
Dalam sesi panel, Yota Balad berbagi panggung dengan Chief Executive Officer (CEO) EMGS, Novie Tajuddin, yang memaparkan praktik pendidikan tinggi dari Malaysia. Diskusi dipandu akademisi senior Universiti Kuala Lumpur, Dr. Farah Hida Sharin.
Di hadapan ratusan peserta yang terdiri atas akademisi, pembuat kebijakan, dan pimpinan perguruan tinggi dari berbagai negara ASEAN, Yota memaparkan konsep The Pariaman Edutourism Model, yaitu pengembangan Kota Pariaman sebagai ruang pembelajaran berbasis potensi alam, budaya, dan masyarakat. Menurut Yota, keunggulan Kota Pariaman justru terletak pada suasana yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan sehingga mampu menghadirkan lingkungan belajar yang lebih kondusif.
"Daya tarik terbesar kami justru terletak pada apa yang tidak kami miliki, yaitu zero urban distractions. Tanpa hiruk-pikuk kota besar, kami menawarkan lingkungan yang memungkinkan mahasiswa lebih fokus dalam proses pembelajaran," ujarnya.
Ia menjelaskan, potensi wisata alam di Kota Pariaman dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium terbuka bagi mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Mulai dari kawasan pesisir, gugusan pulau, hingga desa wisata dapat menjadi lokasi praktik lapangan untuk kegiatan konservasi penyu, rehabilitasi mangrove, maupun transplantasi terumbu karang di Pulau Kasiak.
Selain kekayaan alam, Yota juga memperkenalkan kekayaan budaya Pariaman sebagai ruang pembelajaran dan penelitian bagi mahasiswa di bidang sosiologi, antropologi, hingga sport tourism. Tradisi Hoyak Tabuik, Malamang, Bajamba, serta Maelo Pukek dinilai memiliki nilai edukatif yang dapat menjadi bahan kajian akademik.
Yota juga menegaskan bahwa akses menuju Kota Pariaman relatif mudah, terutama bagi mahasiswa dari Malaysia dan negara ASEAN lainnya. Dari Kuala Lumpur, perjalanan menuju Bandara Internasional Minangkabau hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit penerbangan, kemudian dilanjutkan perjalanan darat menuju Kota Pariaman.
"Komitmen kami sederhana, yaitu menghadirkan lingkungan yang aman, autentik, dan terjangkau bagi mahasiswa. Kami ingin mereka tidak hanya belajar, tetapi juga merasakan kekayaan budaya dan keramahan masyarakat Pariaman," katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....