The Azolla Event: Kisah Tanaman Mungil yang Pernah Mendinginkan Bumi
- 12 Jun 2026 15:22 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang – Sekitar 50 juta tahun lalu (Era Eosen), bumi kita kondisinya yang sangat hangat. Pada periode ini, siklus hidrologi di bumi bagian utara berjalan sangat intensif, menyebabkan tingkat curah hujan jauh melebihi tingkat penguapan.
Tingginya curah hujan ini menyebabkan terjadinya desalinasi berkala, di mana lapisan permukaan air Samudra Arktik yang tadinya asin berubah menjadi air tawar yang tenang. Kondisi unik inilah yang memicu ledakan pertumbuhan Tanaman Azolla.
Karena Samudra Arktik saat itu sangat terisolasi dari laut sekitarnya, Azolla tumbuh subur dan bereproduksi secara masif selama interval waktu sekitar 800.000 tahun. Begitu melimpahnya Azolla saat itu terjadi tumpahan air tawar dari Samudra Arktik, aliran tersebut menghanyutkan miliaran koloni Azolla ke arah selatan hingga mencapai wilayah Laut Utara.
Azolla tidak bekerja sendirian. Di dalam kompartemen daunnya, terdapat bakteri (Anabaena azollae) yang hidup bersimbiosis dengannya. Bakteri ini bertugas mengikat nitrogen dan langsung dari udara dan mengubahnya menjadi nutrisi siap pakai untuk pertumbuhan Azolla. Karena suplai nitrogennya selalu terpenuhi secara mandiri, proses fotosintesis Azolla untuk menyerap Karbon dioksida CO2 berjalan tanpa hambatan
Karena Azolla berfotosintesis dengan kecepatan luar biasa, mereka mengisap gas Karbon dioksida CO2 dari atmosfer secara ugal-ugalan. Ketika tanaman Azolla ini mati, mereka tenggelam ke dasar laut Arktik. Karbon yang mereka isap terkunci selamanya di dasar bumi dan tidak terurai kembali ke udara. Proses ini secara perlahan menurunkan suhu bumi, hingga akhirnya fase Azolla ini berhenti ketika terjadi interaksi oseanografi baru yang membawa aliran air asin dan panas (menaikkan suhu laut dari 10 °C ke 13 °C) dari samudra tetangga.
The Azolla Event mengajarkan kepada kita bahwa alam selalu punya cara yang cerdas untuk menyembuhkan dirinya sendiri. (Nature Journal - Episodic fresh surface waters in the Eocene Arctic Ocean)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....