Partisipasi Komunitas Astronomi dalam Pengamatan Hilal dan Edukasi Ilmu Falak
- 18 Mei 2026 09:20 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - Komunitas Astronomi Sumatera Barat ikut berpartisipasi dalam kegiatan pengamatan hilal untuk menentukan awal bulan Zulhijjah 1447 Hijriah. Kegiatan ini digagas oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumbar yang turut mengadakan sidang isbat sebagai bagian dari proses penetapan kalender Islam.
Lokasi pelaksanaan kegiatan yang diadakan pada Minggu, 17 Mei 2025 berada di kawasan Masjid Al Hakim Padang dan berhasil menarik perhatian lebih dari 130 peserta yang datang dari berbagai kalangan.. Hadir pula mahasiswa dari UIN Imam Bonjol Padang dan UM Sumbar yang menjadikan momen ini sebagai ajang praktik lapangan dalam mata kuliah Ilmu Falak yang mereka tempuh.
Para peserta dibagi ke dalam beberapa pos pengamatan yang dilengkapi teleskop, masing-masing dikelola oleh lembaga terpercaya seperti BMKG Padang Panjang dan Kanwil Kemenag Sumbar secara bergantian. Selain itu, pos pengamatan juga dikelola oleh LDII Sumbar serta Komunitas Astronomi Sumbar untuk memastikan proses pengamatan berjalan dengan baik dan akurat.
Kepala Kanwil Kemenag Sumbar, Mustofa, menyampaikan apresiasi yang mendalam atas terselenggaranya kegiatan yang memiliki nilai penting baik dari sisi ibadah maupun ilmu pengetahuan ini. Menurutnya, kegiatan ini bukan hanya bagian dari proses rukyatul hilal, melainkan juga sarana edukasi untuk memperkenalkan cara penetapan bulan Hijriah kepada masyarakat luas.
Ia pun menyampaikan harapan agar kegiatan serupa dapat terus digelar dan melibatkan lebih banyak mahasiswa di masa yang akan datang demi kemajuan bersama. Keterlibatan generasi muda serta komunitas seperti Komunitas Astronomi Sumbar dianggap sangat penting sebagai upaya memperkuat literasi ilmu falak sekaligus menyebarkan syiar Islam di tengah kehidupan bermasyarakat.
Berdasarkan hasil perhitungan hisab yang telah dilakukan sebelumnya, posisi hilal di Kota Padang saat matahari terbenam berada pada ketinggian sekitar 5 derajat. Sementara itu, nilai elongasi hilal pada waktu yang sama tercatat mencapai sekitar 10 derajat, data yang menjadi acuan utama dalam pelaksanaan pengamatan di lapangan.
Meski perhitungan menunjukkan peluang kemunculan hilal, namun proses pengamatan yang dilakukan berakhir tanpa hasil karena kondisi alam tidak mendukung sepenuhnya. Pada saat itu, ufuk barat wilayah Padang tertutup oleh awan tebal yang menghalangi pandangan sehingga hilal tidak dapat terlihat oleh para pengamat.
Setelah melalui serangkaian pembahasan dan pengecekan data, sidang isbat yang digelar di lokasi kegiatan akhirnya mengambil kesimpulan yang disepakati bersama. Sidang tersebut secara resmi menyatakan bahwa hilal awal bulan Zulhijjah 1447 H tidak berhasil teramati maupun terlihat di wilayah Padang dan Sumatera Barat secara keseluruhan.
Kegiatan ini pun menjadi bukti nyata upaya bersama berbagai pihak untuk menjaga tradisi rukyatul hilal sekaligus mengembangkan ilmu falak di bumi Minangkabau. Semangat kolaborasi antara instansi, komunitas, dan kampus diharapkan terus terjaga agar nilai manfaat dari kegiatan serupa dapat dirasakan oleh lebih banyak orang ke depannya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....