Beberapa Bahasa Daerah di Indonesia yang Masuk dalam Kategori Terancam Punah
- 12 Mei 2026 20:47 WIB
- Padang
Poin Utama
- Lebih dari 30 bahasa berada di ambang kepunahan, dengan titik rawan tertinggi berada di wilayah Maluku dan Papua.
- Dominasi bahasa pendatang (Indonesia/Melayu Papua), isolasi geografis, serta hilangnya minat generasi muda dalam menuturkan bahasa leluhur.
RRI.CO.ID, Padang - Indonesia memiliki kekayaan luar biasa dengan total 718 bahasa daerah yang tersebar luas dari Sabang sampai ujung Merauke. Keberagaman linguistik ini menjadi identitas bangsa yang sangat unik namun sekaligus menyimpan tantangan besar dalam upaya pelestarian budaya.
Badan Bahasa terus mendokumentasikan kosakata baru hingga jumlah lema dalam KBBI VI kini telah mencapai angka 120.649 kata. Penambahan lema ini dilakukan secara rutin setiap tahun untuk memperkaya perbendaharaan kata dan mendukung perkembangan ilmu pengetahuan modern.
Kondisi vitalitas bahasa daerah saat ini menunjukkan bahwa hanya terdapat sekitar 18 hingga 20 bahasa berstatus benar-benar aman. Bahasa besar seperti Jawa dan Minangkabau tetap bertahan karena memiliki jumlah penutur aktif yang sangat masif di masyarakat.
| Baca juga: Tetap Tenang Menghadapi Musim Kemarau |
Fenomena menyedihkan muncul ketika kita melihat fakta bahwa terdapat 11 bahasa daerah yang kini sudah dinyatakan resmi punah. Kepunahan tersebut terjadi karena tidak ada lagi generasi muda yang mampu menuturkan bahasa asli dari para leluhur mereka.
Selain itu terdapat lebih dari 30 bahasa daerah yang masuk dalam kategori kritis dan terancam hilang dari bumi. Berikut adalah daftar beberapa bahasa daerah di Indonesia yang masuk dalam kategori Kritis atau Terancam Punah, yang sebagian besar terkonsentrasi di wilayah timur Indonesia:
1. Wilayah Maluku (Titik Paling Rawan)
Provinsi Maluku memiliki keragaman bahasa yang tinggi namun dengan jumlah penutur yang sangat sedikit pada tiap bahasanya.
- Bahasa Kayeli: Berada di Pulau Buru, penuturnya kini hanya segelintir orang tua.
- Bahasa Palumata: Hampir tidak ada lagi penutur aktif yang tersisa.
- Bahasa Hoti: Di Pulau Seram, statusnya sangat kritis.
- Bahasa Piru: Digunakan di wilayah Seram Barat.
- Bahasa Loun: Di Maluku Tengah, jumlah penuturnya sudah di bawah hitungan jari tangan.
2. Wilayah Papua
Papua adalah "surga linguistik" dunia, namun isolasi geografis dan pergeseran ke bahasa Indonesia/Melayu Papua mengancam banyak bahasa kecil.
- Bahasa Tandia: Di Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat.
- Bahasa Airoran: Di wilayah pedalaman Papua.
- Bahasa Saponi: Salah satu bahasa yang hampir kehilangan seluruh penuturnya.
- Bahasa Mapia: Berada di kepulauan terluar, sangat terisolasi dengan jumlah penutur minimal.
- Bahasa Tobati: Di sekitar Jayapura, meskipun wilayahnya maju, bahasa aslinya tergerus sangat cepat.
3. Wilayah Sulawesi
- Bahasa Ponosakan: Di Sulawesi Utara. Bahasa ini unik karena merupakan bahasa Austronesia yang sangat berbeda, namun kini penuturnya sangat langka.
- Bahasa Dampelas: Di Sulawesi Tengah.
- Bahasa Konjo Pegunungan: Mulai mengalami penurunan jumlah penutur muda secara signifikan.
4. Wilayah Sumatra dan Kalimantan
- Bahasa Enggano: Di Pulau Enggano, Bengkulu. Meskipun masih ada komunitasnya, tekanan dari bahasa pendatang membuat regenerasi bahasa ini sangat lambat.
- Bahasa Nasal: Di perbatasan Bengkulu dan Lampung.
- Bahasa Lengilo: Di Kalimantan Utara.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....