Ikan Sapu-sapu Belum Dapat Dimanfaatkan, Populasinya Melonjak di Indonesia

  • 31 Mei 2026 13:10 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang-Ikan sapu-sapu saat ini menjadi perhatian masyarakat Indonesia. Ikan yang bukan berasal dari perairan Indonesia ini kini menjadi ancaman bagi fauna asli di berbagai ekosistem air tawar.

Ikan sapu-sapu merupakan spesies dari keluarga Loricariidae yang berasal dari Amerika Selatan. Kehadirannya di Indonesia umumnya disebabkan oleh aktivitas perdagangan ikan hias.

Banyak orang membeli ikan ini untuk membersihkan akuarium. Hal tersebut karena ikan sapu-sapu dikenal mampu memakan lumut dan sisa makanan di dalam air.

Secara fisik, ikan sapu-sapu memiliki tubuh keras seperti pelat dan mulut berbentuk pengisap. Ikan ini dapat tumbuh hingga sekitar 30–50 cm, sehingga terlihat cukup besar saat berada di perairan umum.

Sayangnya, ikan sapu-sapu kini telah tersebar di berbagai perairan Indonesia. Salah satu wilayah yang terdampak adalah Sungai Ciliwung.

Di beberapa titik, ekosistem sungai tersebut mulai didominasi oleh ikan sapu-sapu. Kondisi ini diperparah dengan adanya pencemaran limbah rumah tangga yang menurunkan kualitas air.

Kekhawatiran tersebut mendorong seorang kreator konten, Arief Kamarudin, untuk menangkap ikan sapu-sapu dari perairan. Aksinya banyak dibagikan melalui media sosial dan menarik perhatian publik.

Dalam berbagai kontennya, terlihat bahwa ikan sapu-sapu cukup mudah ditangkap dalam jumlah besar. Sementara itu, keberadaan ikan asli di lokasi yang sama terlihat jauh lebih sedikit.

Hal ini terjadi karena ikan sapu-sapu mampu berkembang biak dengan cepat dan bertahan di perairan dengan kualitas buruk. Mereka juga dapat memakan telur ikan lain serta bersaing dalam memperebutkan sumber makanan.

Di Indonesia, predator alami ikan ini tergolong sangat sedikit. Akibatnya, populasinya sulit dikendalikan dan terus meningkat di berbagai wilayah.

Pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai bahan konsumsi juga masih menjadi perdebatan.

Arief Kamarudin bekerja sama dengan Mutu International dalam melakukan pengujian kelayakan konsumsi ikan sapu-sapu.

Ikan sapu-sapu yang diambil dari beberapa titik menunjukkan hasil uji yang berbeda. Di kawasan Pintu Air Manggarai, ditemukan kandungan bakteri Escherichia coli mencapai sekitar 350 MPN/gram, yang mengindikasikan tingkat pencemaran tinggi.

Sementara itu, kandungan merkuri pada sampel dari Sungai Ciliwung tercatat sekitar 0,166 mg/kg. Angka ini memang masih berada di bawah ambang batas umum (0,5 mg/kg), namun menunjukkan adanya paparan logam berat di perairan tersebut.

Perbedaan hasil ini menunjukkan bahwa kondisi kualitas air di setiap titik tidak sama. Namun secara umum, data tersebut mengindikasikan bahwa habitat ikan sapu-sapu berada di lingkungan yang telah tercemar.

Dengan demikian, konten Arief Kamarudin tidak hanya memperlihatkan invasi ikan sapu-sapu di perairan Indonesia. Lebih dari itu, konten tersebut juga menjadi gambaran nyata bahwa kualitas air di beberapa sungai, khususnya di wilayah perkotaan, mengalami penurunan akibat limbah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....