Fadli Zon: Sejarah Bukan Beban tapi Kekuatan

  • 30 Jun 2026 14:43 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang – Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias menyambut kehadiran Mentri Kebudayaan RI , Dr.H Fadli Zon pada Seminar Internasional 100 tahun Jam Gadang di Bung Hatta Convention Hall Bukittinggi , Sabtu, 20 Juni 2026. Dalam pemaparannya Fadli Zon menegaskan, sejarah bukan beban, tapi kekuatan. Bukittinggi tampil percaya diri sebagai kota warisan sekaligus pusat dialog internasional, dimana masa lalu dan masa depan saling merajut persatuan. Diseminar internasional ini beliau sebagai pembicara utama yang menjadi puncak rangkaian Internasional Minangkabau Literacy Festival 2026. Lebih jauh ia menegaskan bahwa Jam Gadang bukan sekedar bangunan ikonik tapi simbol sejarah, persahabatan lintas bangsa dan modal kemajuan kebudayaan nasional.

Acara seminar internasional ini dihadiri oleh Dubes Belanda Marc Gerrtsen, delegasi sekitar 40 negara, akademisi, budayawan dan tokoh adat. Beberapa poin utama yang disampaikan dalam materinya adalah : Jam Gadang lebih dari sekedar penanda waktu. Jam Gadang dibangun tahun 1026 sebagai hadiah Ratu Wilhelmina namun kini tumbuh menjadi milik seluruh rakyat Indonesia bahkan menjandi jendela dunia mengenal sejarah kita, Jam Gadang dinilai adalah bangunan saksi kolonialisme, pergerakan kemerdekaan, hingga masa kini, arsitektur kokoh dan mesin jam buatan Jerman yang masih berfungsi adalah bukti kejayaan teknologi dan budaya lintas bangsa.

Kemudian poin berikutnya adalah Bukittinggi Kota Perjuangan, ini pengakuan resmi dan warisan. Mendukung usulan penetapan Bukittinggi sebagai Kota Perjuangan setara dengan DIY dan Aceh, beliau menegaskan “ Peran Bukittinggi sebagai pusat Pemerintahan Darurat RI (PDRI) 1948-1949 adalah fakta, fakta sejarah mutlak yang wajib dicatat dalam narasi resmi bangsa”. Dan berharap hasil seminar ini akan dibukukan menjadi landasan akademik pengajuan status khusus.

Menteri Kebudayaan ini juga mendorong peran Jam Gadang sebagai pusat diplomasi budaya yang artinya sinkronisasi kegiatan dengan dana Indonesiana, kolaborasi riset arsip Indonesia-Belanda, pertukaran sejarah, serta pariwisata warisan yang inklusif. Menbud mengapresiasi penyatuan tema sejarah, diplomasi, dan repatriasi dalam forum seminar ini menjadikan persahabatan masa kini tidak melupakan masa lalu. 100 tahun Jam Gadang tidak hanya memperkuat kesadaran sejarah dan budaya tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi serta berbagai dampak positif lainnya bagi masyarakat.

Diakhir paparan ada pesan untuk Generasi Muda “ Lestarikan warisan bukan sekedar menjaga batu dan besi,tetapi menanamkan semangat berjuang, gotong royong dan beradaptasi seperti Jam Gadang yang tetap tegak meski gempa dan zaman berubah. Ditangan generasi sekarang jejak masa kolonial, semangat kemerdekaan serta kisah repatriasi menjadi jembatan persahabatan yang kokoh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....