Dukungan Hamengku Buwono X untuk Seminar Nasional 100 tahun Jam Gadang 2026

  • 25 Jun 2026 02:35 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang – Kegiatan seminar nasional yang dilakukan di Balairung Rumah Dinas Wali Kota Bukittinggi Kamis,18 Juni 2026 membawa peserta seminar untuk menelaah perjalanan satu abad Jam Gadang yang penuh warna. Gubernur Daerah Istimewa Jogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X secara khusus memberikan pesan yang diwakili oleh Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi. Pesan dimaksud menegaskan, pada masa darurat 1948 Bukittinggi jadi salah satu daerah penjaga kedaulatan dan keberlangsungan Republik Indonesia melalui Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Pesan ini menekankan pentingnya merefleksikan kembali peran strategis Bukittinggi sebagai Kota Perjuangan dalam catatan sejarah bangsa.

Gubernur DIY secara khusus memberikan apresiasi mendalam atas peringatan 100 tahun Jam Gadang 1926-2026 untuk pengukuhan status Bukittinggi Kota Perjuangan. Menurutnya, hubungan sejarah Yogyakarta dan Bukittinggi ibarat dua sisi mata uang kemerdekaan. "Ketika Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda pada tanggal 19 Desember 1948 Bukittinggi mengambil alih tongkat estafet, disinilah PDRI berdiri menjaga nyala kedaulatan agar tidak padam.Tanpa Bukittinggi mungkin republik ini hanya tinggal nama," ujarnya.

Gubernur DIY menegaskan, terdapat tiga poin penting hubungan Yoyakarta dan Bukittinggi. Pertama adalah persaudaraan sejarah dimana kedua kota sama-sama menjadi benteng kedaulatan dan Bukittinggi layak setara pengakuannya. Kedua, Jam Gadang lebih dari arsitektur bukan sekedar peninggalan kolonial tapi saksi bisu perjuangan dan simbol ketahanan bangsa selama satu abad. Ketiga, DIY mendukung usulan penetapan Bukittinggi Kota Perjuangan dan pengkajian status khusus agar warisan sejarah terjaga dengan baik.

“ Yogyakarta menjaga jiwa perjuangan, Bukittinggi menjaga nyala kelangsungan negara. Kini diusia satu abad Jam Gadang kita satukan kekuatan agar sejarah ini terus diajarkan dan dihidupi generasi muda," tuturnya.

Dua kota bersejarah ini melangkah berdampingan, mengukir masa depan dari akar sejarah yang kokoh. Dalam rangka menanamkan kesadaran masyarakat, terhadap nilai sejarah perjuangan bangsa, guna memperkuat kepribadian dan harga diri bangsa yang pantang menyerah, patriotik, rela berkorban, berjiwa nasionalisme dan berwawasan kebangsaan. Kalimat itu bukan milik masa lalu, ia adalah mandat untuk masa kini dan seminar ini adalah salah satu wujud nyata dari mandat itu.

Jam Gadang dan ingatan yang harus dijaga, 100 tahun Jam Gadang bukan perayaan sebuah bangunan. Ia adalah pilihan moral, pilihan yang dibuat oleh pendiri bangsa disaat paling gelap agar tetap menyalakan republik dengan cara yang bermartabat. Yogyakarta kembali pada tanggal 29 juni 1949 dan ini adalah momentum simbolik kembalinya Republik, tetapi Republik itu bisa kembali karena 207 hari PDRI. Bukittinggi dan sumatera jadi benteng terakhir kedaulatan.

Hubungan Yogyakarta dan Bukittinggi bukan hanya sekedar relasi histori, ia adalah saudara dalam perjuangan yang melahirkan Indonesia yang kita kenal hari ini. Jam Gadang harus dijaga agar tetap jadi ingatan hidup bukan sekedar monumen yang selalu dikunjungi. Jam Gadang akan berdetak terus, Jam Gadang tidak berhenti saat Belanda mengepung, Jam Gadang tidak berhenti saat pemimpin bangsa bergerilya di hutan. Detak itu adalah metafora terbaik bagi daya hidup sebuah bangsa, selama ada yang menjaga nyala tidak akan padam.

Kota ini termasyhur karena jiwa kemerdekaannya karena ketika republik hampir padam, Bukittinggilah yang menjaga tetap menyala. Maka biarkan Jam Gadang tetap berdetak, biarlah mengingatkan kita setiap jamnya, setiap hari, bahwa bangsa ini pernah selamat bukan karena keberuntungan, tetapi karena orang-orang yang memilih untuk tidak menyerah, tidak berkhianat. Karena nyala itu bukan warisan yang cukup hanya untuk dikenang, ia adalah amanah yang harus dijaga untuk Indonesia yang satu.

Wali kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias menyambut hangat dukungan dari Sri Sultan Hamengku Buwono X. Ia berkomitmen melanjutkan peran sebagai penjaga ingatan bangsa. Pesan itu jelas telah tersampaikan di usia seabad Jam Gadang 1926-2026 untuk menjaga nyala Republik berarti mengenang semua babak perjuangan termasuk yang terjadi di Bukittinggi.

Setelah selesai dibacakan naskah tersebut langsung diserahkan kepada Wali Kota Bukittinggi, karena naskah itu adalah tulisan langsung Sri Sultan Hamengku Buwono X. Bagi Kota Bukittinggi ini menjadi semangat untuk menjadikan Bukittinggi sebagai salah satu daerah istimewa atau daerah khusus di Indonesia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....