Satu Abad Jam Gadang Rajut Jembatan Persahabatan Indonesia Belanda
- 23 Jun 2026 03:24 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang – Rangkaian peringatan satu abad atau 100 tahun Jam Gadang Bukittinggi diisi dengan seminar internasional bertajuk “Merajut Tenun Diplomasi Indonesia dan Belanda, Pergerakan Kemerdekaan hingga Repatriasi”. Kegiatan digelar di Bung Hatta Convention Hall Bukittinggi, Sabtu, 20 Juni 2026, sebagai bagian dari kerja sama Pemerintah Kota Bukittinggi bersama International Minangkabau Literacy Festival, didukung Kementerian Luar Negeri RI dan KBRI Den Haag.
Seminar tersebut memiliki makna sejarah karena berlangsung di kota yang pernah menjadi pusat perjuangan bangsa. Bung Hatta Convention Hall dipilih sebagai lokasi kegiatan karena Bung Hatta merupakan putra Bukittinggi, Proklamator Kemerdekaan Indonesia, sekaligus tokoh yang menjunjung tinggi hubungan setara antarnegara.
Pembahasan seminar mengangkat perjalanan sejarah Bukittinggi sebagai Ibu Kota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada 1948-1949 saat perjuangan mempertahankan kemerdekaan berada pada masa paling berat akibat Agresi Militer Belanda II. Ketika Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda, pemerintahan sementara dipindahkan ke Bukittinggi di bawah kepemimpinan Sjafruddin Prawiranegara.
Selain menjadi pusat pemerintahan darurat, Bukittinggi juga dikenal sebagai salah satu pusat pergerakan kemerdekaan di Sumatera. Sejak masa awal, berbagai organisasi pemuda, pendidikan, dan perdagangan berkembang di daerah tersebut sehingga menjadikannya sebagai tempat penyebaran gagasan kemerdekaan.
Seminar juga membahas kisah warga keturunan Indo-Eropa, pegawai pemerintahan kolonial, serta keluarga Belanda yang mengalami proses perpindahan antara Indonesia dan Belanda setelah masa kemerdekaan. Cerita perpisahan keluarga, jejak keberadaan mereka di Sumatera Barat, serta nilai kemanusiaan dalam proses repatriasi dinilai menjadi bagian penting dari catatan sejarah bersama.
Wali Kota Bukittinggi menyampaikan bahwa hubungan Indonesia dan Belanda saat ini dapat diibaratkan seperti tenun Minangkabau yang memiliki benang berbeda asal, warna, dan masa, namun dapat menjadi kain yang kuat dan indah. Menurutnya, hubungan kedua negara kini bukan lagi sebagai penguasa dan yang dikuasai, melainkan sebagai mitra yang saling menghargai sejarah masing-masing.
Forum internasional tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan, di antaranya membuka akses pemanfaatan arsip sejarah di Den Haag dan Bukittinggi untuk penelitian, kerja sama pendidikan serta pertukaran pelajar antarperguruan tinggi, pengakuan repatriasi sebagai bagian dari warisan budaya tak benda, dan dukungan terhadap usulan Bukittinggi sebagai Kota Perjuangan. Seminar ini menjadi bukti bahwa sejarah dapat menjadi jembatan persahabatan Indonesia dan Belanda untuk membangun masa depan yang lebih damai.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....