Sentuhan Emosi Manusia dalam Sastra yang Tak Tergantikan AI

  • 10 Agt 2026 09:39 WIB
  •  Padang
Poin Utama
  • FLP Kota Padang secara berkala menggelar diskusi karya di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat, aksi membaca bersama (silent reading), hingga kelas menulis online dan offline.
  • FLP menekankan pentingnya memverifikasi informasi agar masyarakat tidak mudah terkecoh kabar bohong (hoaks).
  • Pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) dinilai dapat membantu pembuatan kerangka atau buku ajar, namun tidak bisa menggantikan emosi dan jiwa dalam penulisan karya sastra seperti puisi atau novel.

RRI.CO.ID, Padang - Suara hangat penyiar Rani Zue menyapa para pendengar RRI Pro 1 Padang pada Sabtu malam, 8 Agustus 2026 dalam program Obrolan Komunitas. Obrolan yang dibalut santai tersebut sengaja menghadirkan Forum Lingkar Pena Kota Padang untuk membedah perjalanan ruang literasi tersebut di Ranah Minang.

Menghadirkan narasumber Widya Rahmawati yang menceritakan bahwa wadah menulis ini sebenarnya sudah mulai resmi dibentuk sejak pertengahan tahun 2025 lalu. Langkah taktis tersebut sengaja diambil agar komunikasi antarpenulis lokal di wilayah Kota Padang dapat terjalin secara makin lancar.

Sosok ramah itu menjelaskan sejarah panjang lahirnya induk organisasi penulisan tingkat nasional yang telah berdiri sejak tahun 1997. Sementara pengurus tingkat wilayah Sumatera Barat sendiri resmi berdiri pada tahun 2000 untuk menjadi wadah berkumpul peminat sastra.

Komunitas literasi ini terbuka sangat luas bagi siapa saja, mulai dari pelajar sekolah hingga kelompok ibu rumah tangga. Saat ini ada sekitar 50 anggota aktif yang terbagi dalam empat divisi penting untuk menjalankan berbagai program kerja.

Widya membeberkan agenda rutin berupa diskusi karya bulanan di gedung Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Provinsi Sumatera Barat. Anggota yang berkumpul diajak membedah draf naskah tulisan serta merevisi hasil karya sebelum terbit resmi ke khalayak umum.

Kegiatan membaca bersama atau silent reading juga menjadi ruang tenang favorit bagi para penikmat buku di Kota Padang. Setiap peserta diajak menelusuri beragam topik menarik sebelum membagikan ulasan pribadi mengenai keseluruhan isi buku yang telah dibaca.

Dalam sesi interaktif, seorang pendengar bernama Wahyu asal Painan sempat melayangkan pertanyaan cukup kritis mengenai kebiasaan anak muda membaca teks media sosial. Menanggapi hal tersebut, Widya mengingatkan pentingnya menyaring informasi digital secara teliti agar masyarakat tidak gampang terkecoh hoaks.

Penulis kawakan itu menekankan bahwa sekadar membaca teks singkat di internet belum tentu memberikan gambaran cerita secara utuh. Masyarakat perlu membiasakan diri memverifikasi kebenaran berita melalui sumber tepercaya sebelum menyebarkan ulang pesan ke grup percakapan.

Penanya lain bernama Zizi dari Payakumbuh mengaku sering sekali kehabisan ide saat hendak melanjutkan tulisan pada bab dua. Widya lantas menyarankan para penulis pemula untuk beristirahat sejenak sambil membaca buku sejenis demi memancing inspirasi segar.

Isu seputar pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan dalam dunia karya sastra juga menjadi bahan pembicaraan hangat selama siaran berlangsung. Widya menegaskan bahwa teknologi AI tidak akan pernah mampu menggantikan kedalaman emosi manusia dalam merangkai bait puisi.

FLP Kota Padang juga sukses menggarap program literasi sekolah dasar lewat kolaborasi erat bersama pihak Bank Indonesia setempat. Pengurus bahkan berencana merangkul mahasiswa jurusan Sastra Arab untuk mengeksplorasi ide penulisan kreatif bernuansa kolaborasi lintas budaya.

Siaran langsung melalui kanal YouTube RRI Pro 1 Padang tersebut menjadi bukti nyata atas tumbuhnya semangat literasi lokal. Menutup obrolan, Widya mengajak seluruh generasi muda Kota Padang untuk berani mulai menuangkan gagasan menjadi tulisan karya yang bermanfaat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....