Merajut Elemen Pendidikan guna Mengikis Sikap Individualis Peserta Didik

  • 31 Jul 2026 17:22 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Anak-anak muda zaman sekarang tumbuh dengan kecenderungan yang individualis. Ruang-ruang interaksi sosial yang dulunya hangat kini perlahan membeku, tersekat oleh dinding tak kasat mata bernama layar gawai.

Fenomena ini tentu bukan sekadar isapan jempol. Menanggapi kondisi yang kian mengkhawatirkan ini, Pengamat Sosial dari Universitas Andalas, Dr. Indradin menegaskan, persoalan merosotnya kepekaan sosial generasi penerus bangsa tidak pernah bisa diselesaikan secara parsial atau setengah-setengah.

Ada sebuah paradoks sosial yang tajam dan patut direnungkan bersama. Di satu sisi, api solidaritas dan rasa korsa sebenarnya belum sepenuhnya mati di dalam jiwa anak-anak muda kita. Namun, energi emosional yang besar itu justru kerap tersalurkan ke tempat yang keliru.

Indradin menyoroti bagaimana solidaritas justru tumbuh subur di kelompok-kelompok liar atau geng motor. Di sana, ikatan emosional terjalin begitu kuat, melahirkan loyalitas semu di mana seorang anak muda rela berkorban mati-matian demi membela kelompoknya.

“Namun di sisi lain, dalam lingkungan sekolah formal, solidaritas positif justru mengalami penurunan. Pengaruh lingkungan dan paparan gadget disinyalir kuat menjadi dalang di balik penurunan kepekaan sosial atau gejala cuek yang makin nyata pada generasi muda,” ungkap Indradin, Jumat, 31 Juli 2026.

Ketika ruang-ruang kelas dan lingkungan formal gagal merawat rasa kekeluargaan yang sehat, gawai hadir mengisi kekosongan tersebut. Akibatnya, anak-anak kita, yang seharusnya menjadi agen perubahan yang peka, justru terasing di tengah keramaian.

Sikap peduli dan berempati tidak pernah bisa tumbuh secara instan layaknya membalikkan telapak tangan. Ia adalah benih yang harus dirawat setiap hari oleh ekosistem yang saling menguatkan.

Oleh karena itu, Indradin menekankan perlunya upaya serius untuk kembali merajut berbagai elemen penting yang sempat renggang. Pembentukan karakter anak tidak bisa dibebankan hanya kepada pundak seorang guru di ruang kelas.

Merajut kembali hubungan antar-elemen ini menjadi kunci mutlak untuk mengikis sifat individualistis dan menumbuhkan kembali empati serta solidaritas yang sehat di kalangan pelajar. Sudah saatnya kita bersama-sama merangkul kembali anak-anak muda kita, membawa mereka keluar dari pengasingan digital, dan menumbuhkan rasa kepedulian demi masa depan bangsa yang lebih beradab.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....