Polusi Cahaya yang Menyembunyikan Cahaya Alami Bintang di Langit

  • 05 Jul 2026 11:19 WIB
  •  Padang
Poin Utama
  • Program Obrolan Komunitas RRI Pro 1 Padang menghadirkan pegiat Komunitas Astronomi Sumbar yang membahas keindahan langit malam dan polusi cahaya kota.
  • Komunitas Astronomi Sumbar sedang dalam masa transisi penting dengan mebubarkan struktur kepengurusan lama dan mengurus legalitas hukum untuk menjadi organisasi resmi dengan payung hukum yang kuat.
  • Paparan lampu buatan manusia menyembunyikan cahaya alami bintang di langit.

RRI.CO.ID, Padang - Program Obrolan Komunitas RRI Pro 1 Padang menghadirkan pegiat komunitas Astronomi Sumbar yang berbagi cerita seru tentang keindahan langit malam. Suara mereka mengudara langsung pada hari Sabtu, 4 Juli 2026 melalui siaran yang dipandu oleh presenter Yudhi Maswar.

Narasumber pertama bernama Pradika Alim Zulamil, seorang lulusan ilmu pendidikan yang akrab disapa dengan panggilan Dika. Pria ramah ini sedang sibuk menyiapkan berkas pendaftaran program profesi guru demi mengejar impian menjadi seorang pendidik.

Sejak kecil Dika memang sangat mengagumi bintang-bintang di langit yang memicu rasa penasaran dalam dirinya. Kenangan masa kecilnya pun diwarnai oleh keindahan fenomena kunang-kunang serta kilatan bintang jatuh yang sangat memukau.

Ia lalu bergabung menjadi relawan Komunitas Astronomi Sumbar sejak Agustus 2025 untuk mengusir kejenuhan saat skripsi. Pemuda ini juga sempat terpukau melihat detail lidah api matahari lewat teleskop observatorium UIN Walisongo di Semarang.

Cerita berbeda datang dari narasumber kedua bernama Ziven Sisra Anasshyf yang aktif kuliah di UIN Imam Bonjol. Mahasiswa perbankan syariah ini awalnya penasaran setelah mendengar cerita teman bahwa permukaan bulan itu penuh dengan kawah.

Rasa penasaran tersebut akhirnya membawa Ziven mendaftar sebagai relawan baru pada bulan Januari 2026 yang lalu. Ia sangat tertarik ikut menyukseskan acara pengamatan fenomena gerhana bulan yang digelar pada tanggal 3 Maret 2026.

Melalui obrolan santai bertema Saat Malam Tak Lagi Gelap, mereka berdua mengupas tuntas masalah polusi cahaya kota. Fenomena ini terjadi akibat paparan lampu buatan manusia yang berlebihan sehingga menyembunyikan cahaya alami bintang di langit.

Dika mengenang peristiwa Sumatra Blackout sebagai momen langka ketika polusi cahaya mendadak hilang dari langit malam. Saat pemadaman listrik total terjadi, masyarakat Sumatra Barat bisa melihat keindahan Galaksi Bimasakti hanya lewat kamera ponsel.

Ziven kemudian menjelaskan kondisi internal terkini dari Komunitas Astronomi Sumbar yang sedang mengalami masa transisi penting. Struktur kepengurusan relawan lama kini telah resmi dibubarkan demi mempersiapkan langkah besar bagi masa depan komunitas mereka.

Saat ini mereka tengah fokus mengurus segala legalitas hukum untuk mengubah status komunitas menjadi sebuah organisasi resmi. Langkah ini diambil agar gerakan edukasi ilmu falak di wilayah Sumatra Barat memiliki payung hukum yang kuat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....