Mengenal Perbedaan Esensial Astronomi dan Ilmu Falak

  • 07 Jun 2026 22:23 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Kelompok generasi muda yang tergabung dalam Komunitas Astronomi Sumatera Barat hadir dalam program Obrolan Komunitas di studio RRI Pro 1 Padang. Acara informatif yang berlangsung pada hari Sabtu, 6 Juni 2026 tersebut menghadirkan dua narasumber yang merupakan anggota komunitas tersebut yaitu Era Zuvialina dan Sunardi Simanulang.

Era menjelaskan secara detail bahwa astronomi membahas benda langit secara luas seperti galaksi dan juga nebula. Sementara itu ilmu falak hanya fokus mengkaji pergerakan bumi bulan serta matahari untuk kepentingan ibadah umat Muslim.

Sementara, Sunardi menambahkan fakta bahwa astronomi berasal dari bahasa Yunani yang berarti hukum tentang bintang-bintang di alam. Kajian ilmu falak bersumber dari bahasa Arab yang membahas lintasan orbit benda langit untuk menentukan arah kiblat.

Kedua narasumber mengungkapkan bahwa mempelajari ilmu falak sudah pasti bersinggungan langsung dengan beberapa prinsip dasar sains astronomi. Namun seseorang yang menekuni astronomi belum tentu mendalami aspek hukum fikih ibadah yang ada di ilmu falak.

Fenomena gerhana bulan menjadi contoh nyata persimpangan indah antara ilmu astronomi modern dengan kajian falak secara religius. Ilmu falak menentukan waktu pelaksanaan salat gerhana sedangkan astronomi meneliti durasi serta perubahan warna fisik permukaan bulan.

Aktivitas memandangi hamparan bintang di langit malam dipercaya mampu memberikan efek relaksasi yang sangat baik bagi pikiran. Kegiatan positif tersebut juga menyadarkan manusia akan keagungan pencipta alam sehingga menjauhkan diri dari sifat sombong duniawi.

Pengamatan objek langit yang jernih sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca serta tingkat polusi cahaya di sekitar lokasi. Kawasan pinggiran kota yang minim lampu memberikan visualisasi rasi bintang jauh lebih indah daripada area pusat kota.

Komunitas ini aktif melakukan pengamatan hilal serta rutin menjalin kemitraan strategis dengan pihak BMKG dan juga Kemenag. Mereka juga merangkul beberapa universitas lokal seperti UNP dan UIN Imam Bonjol dalam melakukan berbagai edukasi sains.

Menyambut Pekan Antariksa Dunia bulan Oktober nanti mereka berencana mengadakan kegiatan pembuatan roket air di beberapa panti asuhan. Program edukatif tersebut memanfaatkan prinsip hukum fisika Newton 3 sebagai sarana bermain sambil belajar bagi anak-anak setempat.

Masyarakat yang tertarik mengikuti kegiatan kerelawanan dapat memantau informasi lengkap melalui akun media sosial resmi komunitas di platform Instagram yaitu @astronomi_sumbar. Kegiatan edukasi langit ini diharapkan terus memberikan inspirasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan serta spiritualitas warga Sumatera Barat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....