Lobang Buaya: 309 Hari sebelum Tragedi Berdarah, ketika Teror Menjadi Pesan
- 30 Sep 2026 16:14 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - Bagaimana jika sebuah desa tiba-tiba berubah menjadi tempat pembunuhan misterius, sementara ketegangan politik perlahan merayap di tengah masyarakat? Pertanyaan itu menjadi awal dari Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah, film horor misteri karya Hanung Bramantyo yang membawa penonton ke Indonesia tahun 1964, tepat 309 hari sebelum tragedi 30 September 1965. Film produksi Adhya Pictures dan Dapur Films ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 1 Oktober 2026.
Cerita bermula ketika sejumlah tokoh desa ditemukan tewas secara mengenaskan dengan lubang pada bagian punggung mereka. Tidak berhenti pada pembunuhan, tubuh para korban juga meninggalkan tanda berupa kata-kata seperti “Tamak”, “Lamis”, dan “Maruk”, membuat kematian tersebut terasa seperti pesan yang sengaja ditinggalkan seseorang. Di tengah ketakutan warga dan munculnya cerita tentang Hantu Bolong, Letnan Soegeng yang diperankan Baskara Mahendra mendapat tugas untuk mencari siapa sebenarnya dalang di balik rangkaian teror tersebut.
Namun penyelidikan Soegeng ternyata bukan satu-satunya sumber kegelisahan. Di rumahnya, sang istri, Arum Wangi yang diperankan Carissa Perusset, mulai mengalami teror dari sosok perempuan misterius yang terus menuntut agar tubuhnya dikembalikan. Ketika sosok tersebut menyebut Arum dengan panggilan “Ronggeng”, batas antara misteri pembunuhan, kisah arwah, dan rahasia masa lalu semakin sulit dibedakan.
Menariknya, film ini tidak diposisikan sebagai film dokumenter sejarah ataupun remake Pengkhianatan G30S/PKI. Hanung Bramantyo menghadirkan cerita fiksi yang memanfaatkan horor dan misteri sebagai cara untuk membangun suasana sosial-politik masa itu, sehingga penonton diajak mengikuti sebuah kasus pembunuhan sekaligus mencermati bagaimana ketakutan dapat berkembang di tengah masyarakat. Karena itulah, nama “Lobang Buaya” dalam film ini menjadi bagian dari konstruksi cerita, bukan sekadar pengulangan peristiwa sejarah yang sudah dikenal.
Di balik layar, film ini juga menuntut para pemain melakukan persiapan serius untuk menghadirkan atmosfer Indonesia pada 1964. RRI melaporkan bahwa para pemain melakukan riset sejarah untuk membantu membangun karakter dan suasana zaman, sementara Anya Zen yang memerankan Ningsih mengaku mendalami karakternya melalui persiapan karakter, fisik, dan mental serta berdiskusi dengan Hanung Bramantyo.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....