Burung Poksai, Primadona Kicau Mania yang Sempat Legendaris

  • 29 Sep 2026 08:18 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang – Dunia pencinta burung berkicau tentu sudah tidak asing lagi dengan keberadaan burung poksai. Burung yang memiliki nama ilmiah dari genus Garrulax ini sempat mendominasi era keemasan hobi burung hias pada tahun 1990-an.

Dari segi penampilan, burung poksai umumnya memiliki bentuk tubuh yang kokoh dengan ukuran sedang hingga besar. Beberapa jenisnya yang paling populer di Indonesia meliputi poksai jambul, poksai hongkong, hingga poksai sumatera. Ciri fisik yang paling mudah dikenali dari burung ini adalah keberadaan bulu bermotif unik di sekitar kepala, paruh yang kuat, serta kombinasi warna bulu kontras seperti hitam, cokelat kemerahan, dan putih bersih yang menyerupai topeng.

Karakteristik paling ikonik dari burung poksai tentu terletak pada kualitas vokal dan suara kicauannya. Burung berjenis kelamin jantan dikenal mampu menghasilkan variasi suara yang sangat kaya, bernada tinggi, melengking, dan cenderung berisik jika dibandingkan dengan burung jenis lain. Keunikan suara ini bahkan sering kali disamakan dengan suara tawa atau kohekan keras yang mampu mendominasi suasana di sekitar habitat maupun rumah pemeliharanya.

Selain bersuara merdu dan bervariasi, burung poksai juga dikenal sebagai satwa yang memiliki kecerdasan tinggi dalam hal bersosialisasi. Di alam liar, burung ini terbiasa hidup secara berkelompok dalam jumlah kecil yang terdiri atas enam hingga belasan ekor. Pola hidup berkelompok tersebut membuat mereka sangat aktif bergerak, saling bersahut-sahutan menggunakan pola suara tertentu untuk menjaga komunikasi, sekaligus memperkuat teritori kelompoknya.

Mengenai habitat aslinya, burung poksai menyukai kawasan hutan pegunungan yang rimbun, lembab, serta area semak belukar yang lebat seperti rimbunan pohon bambu. Sebagai pemakan segalanya atau omnivora alami, menu harian burung ini di alam bebas biasanya terdiri dari aneka serangga kecil, laba-laba, biji-bijian, hingga berbagai jenis buah-buahan hutan. Pola makan ini pula yang kerap diadopsi oleh para penghobi saat merawat burung poksai di dalam sangkar penangkaran.

Sayangnya, popularitas tinggi burung poksai di masa lalu sempat membawa dampak buruk bagi kelestarian populasi di alam bebas. Perburuan liar yang masif untuk tujuan perdagangan membuat beberapa spesies endemik poksai, seperti poksai sumatera dan poksai kuda, mengalami penurunan populasi yang cukup drastis. Bahkan, beberapa di antaranya kini berstatus langka dan masuk dalam daftar perlindungan konservasi internasional agar tidak punah.

Oleh karena itu, upaya pelestarian melalui penangkaran mandiri menjadi langkah krusial yang saat ini terus digalakkan oleh para pencinta burung. Dengan adanya penangkaran yang baik, populasi burung poksai di alam dapat terjaga tanpa harus merusak ekosistem aslinya. Di sisi lain, hobi memelihara burung kicau ini tetap dapat dilestarikan secara bijak selaras dengan upaya menjaga kelestarian keanekaragaman hayati nusantara.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....