Daniel and the Fiery Furnace: saat Empat Pemuda Menolak Tunduk, Api Jadi Saksi Iman

  • 19 Sep 2026 17:45 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang : Ada kisah yang terasa sudah terlalu familiar untuk diceritakan kembali, tetapi Daniel and the Fiery Furnace mencoba membuktikan bahwa cerita lama belum tentu kehilangan daya gigitnya. Film drama epik Alkitab ini membawa penonton ke masa pembuangan bangsa Yahudi di Babilonia, ketika Daniel dan teman-temannya harus bertahan hidup di tengah kerajaan yang memiliki kekuasaan besar sekaligus sistem kepercayaan yang bertentangan dengan keyakinan mereka. Di Indonesia, film ini dijadwalkan hadir di bioskop pada 23 September 2026, beberapa hari setelah pemutaran teatrikalnya di Amerika Serikat pada 18 September.

Yang membuat film ini menarik bukan semata-mata adegan tungku api yang menjadi pusat kisahnya, melainkan pertanyaan tentang seberapa jauh seseorang mampu mempertahankan keyakinannya ketika konsekuensinya adalah kematian. Ceritanya berangkat dari masa ketika Daniel dan para sahabatnya hidup di bawah pemerintahan Raja Nebukadnezar. Ketika sang raja memerintahkan rakyat untuk menyembah patung emas, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego memilih untuk tidak tunduk. Penolakan itu membawa mereka menuju hukuman yang tampaknya tidak mungkin diselamatkan: dilemparkan ke dalam perapian yang menyala-nyala.

Namun, film ini tampaknya tidak ingin menjadikan Daniel sekadar tokoh sampingan dalam kisah mukjizat tersebut. Justru perjalanan Daniel di Babilonia menjadi bagian penting dari narasi—seorang pemuda yang berada di negeri asing, harus beradaptasi dengan lingkungan baru, masuk semakin dekat ke pusat kekuasaan, tetapi tetap berusaha mempertahankan identitas dan keyakinannya. Karena itu, judul film ini sebenarnya memiliki makna yang lebih luas. Daniel memang tidak berada di dalam tungku menurut kisah Alkitab; kisahnya dan kisah tiga sahabatnya dipertemukan karena sama-sama berbicara tentang iman yang diuji ketika berhadapan dengan kekuasaan.

Dari sisi pemeran, film ini membawa nama Mena Massoud, aktor yang dikenal luas lewat Aladdin, sebagai Daniel. Sementara Elijah Alexander, yang dikenal melalui The Chosen, memerankan Raja Nebukadnezar. Tiga sahabat Daniel diperankan oleh Sunjay Midda sebagai Sadrakh, Adam Lahraoui sebagai Mesakh, dan Zaki Ali sebagai Abednego. Di belakang kamera, kakak beradik Daniel Kooman dan Matthew Kooman bertindak sebagai penulis sekaligus sutradara, serta menjadi produser bersama Massoud dan Travis Mann.

Menariknya lagi, para pembuat film berusaha membuat kisah tersebut tetap dekat dengan sumber Alkitab. Materi mengenai film menyebut bahwa proses pengembangan ceritanya melibatkan pastor, teolog, dan ahli sejarah Alkitab, sementara sejumlah bagian dialog juga mengambil perkataan dari Kitab Suci. Film berdurasi 108 menit ini hadir sebagai drama live-action dengan rating PG-13 di Amerika Serikat karena mengandung kekerasan dan gambar berdarah. Musiknya digarap oleh Tyler Michael Smith, sementara musisi Kristen Michael W. Smith kemudian bergabung sebagai executive producer.

Pada akhirnya, Daniel and the Fiery Furnace punya tantangan yang cukup besar: bagaimana membuat kisah yang sudah dikenal banyak orang terasa kembali menegangkan di layar lebar. Jawabannya mungkin bukan pada apakah penonton sudah mengetahui akhir kisahnya, melainkan pada bagaimana film ini menggambarkan ketakutan sebelum seseorang memilih untuk tetap berdiri. Sebab inti ceritanya bukan sekadar tentang manusia yang masuk ke dalam api, tetapi tentang pilihan untuk tidak menyerah bahkan ketika api sudah menunggu di depan mata. Dan ketika film ini tiba di bioskop Indonesia pada 23 September 2026, pertanyaan terbesarnya bukan lagi apakah mereka akan selamat, melainkan: kalau berada di posisi mereka, apakah kita juga berani tidak tunduk?

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....