Bisikan Desa Gringsing: Desa Terkutuk yang Tak Membiarkan Siapa Pun Pulang
- 31 Agt 2026 19:38 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang : Ada desa yang bisa didatangi siapa saja, tetapi tidak semua orang diberi kesempatan untuk keluar. Premis mengerikan inilah yang menjadi pintu masuk Bisikan Desa Gringsing, film horor misteri Indonesia yang dijadwalkan meneror bioskop mulai 24 September 2026. Disutradarai sekaligus ditulis oleh Ivander Tedjasukmana, film ini membawa penonton ke sebuah desa yang menyimpan sejarah kelam dan teror dari sosok bernama Fatimah. Bukan hanya mengandalkan kemunculan makhluk gaib, film ini membangun ketakutan dari sebuah pertanyaan sederhana: bagaimana jika tempat yang kita masuki ternyata memiliki aturan sendiri, dan melanggarnya berarti mempertaruhkan nyawa?
Cerita mengikuti Hesti, diperankan Aghniny Haque, yang sedang mencari ayahnya yang menghilang. Pencarian tersebut akhirnya membawanya menuju Desa Gringsing, sebuah tempat terpencil yang menyimpan misteri sekaligus ketakutan bagi penduduknya. Namun, semakin jauh Hesti mencari jawaban, semakin jelas bahwa desa tersebut bukan tempat biasa. Warga hidup di bawah ancaman sosok Fatimah, diperankan Fatmah Faisal Nahdi, arwah seorang perempuan yang menyimpan dendam. Bagi Hesti, persoalannya kemudian bukan lagi sekadar menemukan sang ayah, tetapi bagaimana bertahan hidup di tempat yang seolah tidak mengizinkan siapa pun pergi begitu saja.
Kengerian film ini menjadi semakin menarik karena Fatimah bukan sekadar sosok hantu yang muncul untuk mengejutkan penonton. Karakter tersebut memiliki sejarah dan emosi yang menjadi bagian penting dari misteri Desa Gringsing. Fatmah Nahdi mengungkap bahwa salah satu tantangan terbesarnya adalah memerankan karakter yang minim dialog sehingga emosi harus disampaikan melalui gestur dan ekspresi wajah. Di balik sosok yang mengerikan, film ini membawa pesan tentang konsekuensi tindakan manusia: jangan meremehkan atau menyakiti pihak yang dianggap lemah, karena perbuatan tersebut dapat kembali menjadi bumerang.
Yang membuat Bisikan Desa Gringsing semakin berbeda adalah teknologi yang digunakan dalam produksinya. Film ini disebut sebagai film horor Indonesia pertama yang menggunakan virtual production, termasuk pemanfaatan LED volumetric stage untuk menciptakan lingkungan digital secara real time. Dengan teknologi tersebut, atmosfer Desa Gringsing—mulai dari jalanan berkabut hingga berbagai visi supernatural—dapat dibangun secara digital ketika para pemain melakukan adegan. Bagi Aghniny Haque, metode ini menjadi pengalaman baru sekaligus tantangan akting karena para pemain harus berinteraksi dengan lingkungan virtual yang tidak selalu hadir sebagai lokasi nyata di sekitar mereka.
Menariknya, film ini juga bukan sekadar produksi lokal. Bisikan Desa Gringsing merupakan hasil kolaborasi antara Indonesia, Singapura, dan Malaysia, dengan jajaran produksi yang melibatkan talenta dari ketiga negara tersebut. Selain Aghniny Haque dan Fatmah Nahdi, film ini turut dibintangi Surya Saputra, Kiki Narendra, Hesti Putri, Khiva Iskak, Nina Tamam, Iyang Darmawan, Akun Gege Nugros, Mian Tiara, dan sejumlah pemain lainnya. Perpaduan pemain lintas negara dan teknologi virtual production tersebut membuat film ini punya ambisi visual yang cukup berbeda dibandingkan film horor Indonesia pada umumnya.
Pada akhirnya, Bisikan Desa Gringsing bukan hanya menawarkan kisah tentang seorang perempuan yang mencari ayahnya di desa penuh teror. Di balik kabut, kutukan, dan sosok Fatimah, tersimpan cerita tentang luka, kebohongan, dendam, serta konsekuensi dari perbuatan manusia. Hesti datang untuk menemukan satu orang, tetapi justru menemukan rahasia yang jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan. Dengan pendekatan horor yang menekankan atmosfer dan misteri, ditambah teknologi visual yang menjadi salah satu daya tarik produksinya, film arahan Ivander Tedjasukmana ini layak masuk daftar tontonan bagi pencinta horor yang ingin sesuatu yang berbeda. Bisikan Desa Gringsing dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 24 September 2026—dan ketika pintu desa itu terbuka, pertanyaan sebenarnya bukan lagi “apa yang ada di dalam?”, melainkan “siapa yang masih bisa keluar?”
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....