Rekam Jejak Sejarah Perbioskopan Lintas Delapan Provinsi di Sumatera
- 03 Jun 2026 12:51 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - Berdasarkan sebuah catatan sejarah nasional, perkembangan industri layar lebar di Pulau Sumatera sudah dimulai sejak awal abad 20. Pertumbuhan tempat pemutaran film kolonial dipicu oleh ledakan ekonomi komoditas perkebunan dan pertambangan di berbagai wilayah daerah tersebut.
Mulai dari propinsi ujung utara di pulau Sumatera hingga ke selatan, banyak bioskop-bioskop yang dulunya merupakan tempat yang mencatatkan sejarah panjang. Tidak hanya menghadirkan hiburan, namun juga mampu menggerakkan semangat politik pada saat itu.
Berkas catatan sejarah peninggalan kemerdekaan menunjukkan Garuda Theatre di Banda Aceh memegang peran politik yang sangat penting sekali. Presiden Soekarno pernah berpidato menggalang dana pembelian pesawat Seulawah RI 001 di dalam gedung pertunjukan film tahun 1948.
Di Sumatera Utara, dokumen arsip perkebunan Deli menjelaskan bahwa De Oranje Bioscoop didirikan di Kota Medan sekitar awal periode tahun 1910. Kehadiran gedung tontonan elite tersebut ditujukan khusus melayani para pejabat kolonial Eropa serta kaum bangsawan Melayu setempat dahulu.
Beralih ke Sumatera Barat, menurut laporan inventaris cagar budaya lokal, Bioskop Karia di Padang Panjang resmi beroperasi sejak periode tahun 1931 silam. Bangunan bersejarah itu menjadi pusat hiburan utama bagi para saudagar kain dan seluruh pelajar di kota perlintasan tersebut.
Dari tanah Lancang Kuning Riau, peta lama perkembangan tata kota Pekanbaru memperlihatkan Bioskop La Vita sebagai pusat hiburan modern paling awal di sana. Tempat tersebut mulai beroperasi menyapa penonton sejak tahun 1950 sebelum kawasan pasar modern Ramayana dibangun oleh pihak pengembang.
Laporan komunitas kebudayaan Jambi menyebutkan Bioskop Mawar di Kabupaten Batanghari merupakan salah satu fasilitas pemutaran film paling tua. Warisan sejarah sinema daerah ini dirawat melalui ruang galeri Tempoa Art Gallery yang menyimpan koleksi ribuan lembar poster.
Sementara itu, catatan silsilah keluarga pengusaha lokal mengonfirmasi bahwa Bioskop Sempurna di wilayah Curup mulai beroperasi sejak periode tahun 1957. Gedung bioskop tertua di Bengkulu tersebut menerapkan sistem pembagian kelas penonton yang sangat kontras antara kursi rotan dengan fasilitas bangku kayu panjang.
Data resmi Dinas Pendapatan Kota Palembang, Sumatera Selatan mencatat Bioskop Flora sebagai gedung sinema paling tua di wilayah seluruh Sumatera. Tempat hiburan yang berdiri tahun 1910 ini kemudian berganti nama menjadi Bioskop Saga hingga masa akhir kegiatan operasional.
Dari kumpulan dokumen niaga daerah, Bioskop Kim Jaya menjadi pelopor industri sinema pertama di wilayah seluruh Provinsi Lampung. Gedung yang berdiri sekitar tahun 1947 ini menjadi tempat berkumpul paling favorit bagi kalangan kawula muda warga lokal.
Berdasarkan analisis ekonomi industri kreatif, gelombang keruntuhan bioskop independen terjadi akibat hantaman teknologi kaset video tape format rumahan. Kehadiran media hiburan baru televisi swasta pada dekade tahun 1990 semakin memperparah kondisi keterpurukan bisnis tempat pertunjukan film.
Hasil survei pemetaan wilayah perkotaan menunjukkan sebagian besar fisik bangunan bioskop tua saat ini sudah banyak beralih fungsi. Beberapa bekas aset cagar budaya tersebut ada yang runtuh atau dijadikan sebagai kompleks area pusat pertokoan komersial daerah.
Melalui kajian riset kebudayaan modern, seluruh warisan sejarah perbioskopan klasik tetap menjadi simbol identitas perkembangan peradaban urban masyarakat. Agenda penyelamatan memori kolektif layar lebar sangat penting demi menjaga kelestarian nilai historis berharga bagi generasi masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....