"Mencoba Bersahabat Dengan Buaya" dalam Film Crocodile Tears

  • 29 Apr 2026 19:25 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Film Crocodile Tears jadi salah satu karya Indonesia yang datang dengan pendekatan berbeda—bukan horor biasa, bukan juga drama keluarga yang ringan. Disutradarai oleh Tumpal Tampubolon, film ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 7 Mei 2026, setelah sebelumnya “keliling dunia” lewat berbagai festival film internasional. Bukan cuma sekadar rilis lokal, tapi ini film yang sudah ditempa di panggung global sebelum akhirnya pulang ke penonton Indonesia.

Yang bikin Crocodile Tears terasa beda adalah nuansanya—gelap, sunyi, dan penuh tekanan emosional. Film ini menggabungkan coming-of-age dengan thriller psikologis, menciptakan atmosfer yang pelan tapi menghantui. Bukan tipe film yang langsung “ngegas” dari awal, tapi justru perlahan menarik penonton masuk ke dunia yang terasa asing sekaligus realistis. Di sinilah kekuatannya: horor yang tidak selalu datang dari makhluk gaib, tapi dari hubungan manusia itu sendiri.

Ceritanya berfokus pada Johan, seorang pemuda yang hidup terisolasi bersama ibunya di sebuah peternakan buaya terpencil. Karakter Johan diperankan oleh Yusuf Mahardika, sementara sosok ibunya yang dominan dan penuh kontrol dimainkan oleh Marissa Anita. Kehidupan mereka terlihat tenang di permukaan, tapi sebenarnya dipenuhi tekanan yang tidak terlihat. Segalanya mulai berubah ketika Johan bertemu Arumi (Zulfa Maharani), sosok yang membuka jalan menuju kebebasan—sekaligus memicu konflik besar dalam hidupnya.

Konflik utama film ini bukan sekadar soal cinta, tapi tentang hubungan ibu dan anak yang berubah jadi “sesuatu yang mencekik”. Sang sutradara sendiri terinspirasi dari perilaku induk buaya yang melindungi anaknya di dalam mulut—sebuah simbol yang indah tapi juga menyeramkan. Dari situ lahir pertanyaan besar: apakah semua bentuk kasih sayang selalu berarti kebaikan, atau justru bisa berubah jadi tekanan yang menghancurkan?

Secara kualitas, Crocodile Tears bukan film sembarangan. Sebelum tayang di Indonesia, film ini sudah diputar di ajang besar seperti Toronto International Film Festival 2024 dan bahkan meraih penghargaan di Jakarta Film Week 2025. Naskahnya juga mendapat pengakuan internasional, menunjukkan bahwa film ini kuat bukan hanya dari visual, tapi juga dari cerita yang dalam dan emosional.

Pada akhirnya, Crocodile Tears adalah film yang tidak sekadar ingin menghibur, tapi juga “mengganggu” pikiran penonton. Ia mengajak kita melihat sisi gelap dari hubungan yang paling dekat dalam hidup—keluarga. Kalau kamu mencari film yang penuh makna, atmosfer mencekam, dan cerita yang nggak mudah dilupakan, film ini wajib banget masuk watchlist kamu. Bukan cuma soal air mata buaya, tapi tentang emosi manusia yang jauh lebih kompleks dari yang terlihat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....