Para "Tahanan" yang Menghidupkan Cerita dalam Ghost In The Cell (Bagian 2)

  • 26 Apr 2026 10:33 WIB
  •  Padang
Poin Utama
  • Magistus Miftah pendatang baru yang mencuri perhatian
  • Aktor handal pemeran film Ghost In The Cell

RRI.CO.ID, Padang - Pemilihan aktor dalam film Ghost In The Cell tidak hanya membuat film ini menjadi perbincangan, namun juga mampu untuk menghidupkan cerita yang dibangun Joko Anwar. Tak heran, dengan deretan pemain-pemain film handal yang bermain dalam film ini mampu membuat film ini ditonton oleh lebih dari 1 juta orang hanya dalam beberapa hari setelah rilis.

Selain Abimana Aryasatya, Aming, Endy Arfian, serta Morgan Oey yang telah diulas profilnya, masih banyak aktor-aktor kawakan Indonesia yang tidak hanya menjadi "pemanis" dalam film ini, namun menjadi "jantung" bagi film yang juga telah dibeli lisensinya oleh lebih 80 negara ini. Simak profil deretan aktor yang juga membintangi film ini.

1. Tora Sudiro

Taura Danang Sudiro, yang lebih dikenal dengan nama Tora Sudiro, lahir di Jakarta pada 10 Mei 1973 dan merupakan cucu dari Sudiro, Gubernur Jakarta periode 1953–1960. Sebelum terjun ke dunia seni peran, ia sempat bekerja sebagai desainer grafis dan pekerja asuransi, sebuah latar belakang yang jauh dari sorotan kamera. Namun, langkahnya di industri hiburan dimulai dengan gebrakan luar biasa saat ia langsung menyabet Piala Citra sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik melalui debut film layar lebarnya, Arisan! (2003), sebuah pencapaian yang sangat langka bagi aktor pendatang baru.

Karier Tora semakin melesat dan mencapai puncak popularitas saat ia bergabung dalam program sketsa komedi Extravaganza, yang memantapkan citranya sebagai salah satu komedian papan atas Indonesia. Sepanjang filmografinya yang panjang, ia telah membintangi berbagai judul ikonik mulai dari drama berkualitas seperti Nagabonar Jadi 2 (2007), komedi laris Quickie Express (2007), hingga memerankan tokoh legenda Indro dalam Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! (2016). Keberhasilannya terus berlanjut hingga proyek terbaru seperti Miracle in Cell No. 7 versi Indonesia (2022) dan Kang Mak from Pee Mak (2024), yang membuktikan daya tarik dan relevansinya yang tak lekang oleh waktu di industri film.

Di balik karier aktingnya, Tora dikenal memiliki fakta unik sebagai sosok yang sangat menggemari dunia otomotif, terutama koleksi motor gede dan motor klasik. Ia juga identik dengan koleksi tato di sekujur tubuhnya yang sering kali menjadi ciri khas unik bagi karakter-karakter yang ia mainkan di layar kaca maupun layar lebar. Selain aktif berakting, suami dari aktris Mieke Amalia ini juga menyalurkan bakat seninya melalui bidang musik bersama grup The Cash serta terus bereksplorasi di belakang layar sebagai produser, menjadikannya salah satu seniman yang paling dinamis dan multitalenta di tanah air.

2. Danang Suryonegoro

Dimas Danang Suryonegoro, yang lebih populer dengan nama Dimas Danang, lahir di Jakarta pada 18 April 1989. Ia merupakan lulusan Universitas Bina Nusantara yang mengawali langkahnya di industri hiburan pada tahun 2011 sebagai penyiar radio Prambors. Namanya meledak di kancah nasional setelah menjadi pembawa acara The Comment bersama Imam Darto, di mana gaya komedinya yang cerdas dan spontan berhasil mencuri perhatian penonton televisi lintas generasi.

Perjalanan kariernya kemudian berkembang pesat ke layar lebar, membuktikan kapasitasnya sebagai aktor yang mampu bermain di berbagai genre. Filmografinya mencakup peran dalam film pahlawan super Gundala (2019), drama emosional Sleep Call (2023), hingga film horor komedi terbaru tahun 2026 berjudul Ghost in the Cell. Selain berakting, dedikasinya pada seni juga terlihat dari keterlibatannya dalam dunia teater serta perannya sebagai vokalis dan gitaris dalam band indie Why Phoebe.

Di balik sosoknya yang humoris, Danang dikenal memiliki kedalaman wawasan di bidang desain dan musik, serta kehidupan pribadi yang harmonis sebagai suami dari Galabby Thahira. Fakta unik yang jarang diketahui adalah statusnya sebagai menantu aktris senior Erly Ashy serta kemampuannya yang luar biasa dalam melakukan improvisasi instan di berbagai situasi. Hingga kini, ia terus konsisten berkarya sebagai penghibur multitalenta yang mampu menyeimbangkan karier di televisi, film, dan panggung musik.

3. Mike Lucock

Richard Michael Lucock, atau yang dikenal dengan Mike Lucock, lahir di Jakarta pada 19 Oktober 1986. Ia mengawali langkahnya di dunia hiburan sebagai VJ MTV Indonesia yang karismatik sebelum akhirnya memutuskan untuk fokus sepenuhnya pada seni peran. Keputusannya menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) melalui proses naturalisasi membuktikan komitmen dan rasa cintanya yang besar terhadap Indonesia, tempat di mana ia membangun reputasi sebagai salah satu aktor pria yang sangat diperhitungkan.

Karier aktingnya mencapai titik balik penting melalui film Nagabonar Jadi 2 (2007), yang kemudian membuka jalan bagi deretan filmografi yang impresif lintas genre. Mike telah membintangi berbagai film populer mulai dari horor Rumah Dara (2011), biopik Habibie & Ainun (2013), hingga film aksi berskala internasional seperti Java Heat (2013) dan The Night Comes for Us (2018). Kemampuannya untuk menghidupkan karakter pendukung menjadi sosok yang tak terlupakan membuatnya sering dipercaya oleh sutradara papan atas untuk memperkuat kedalaman cerita dalam setiap film yang dibintanginya.

Di balik layar, Mike dikenal sebagai sosok yang cerdas dan memiliki kemampuan linguistik yang luar biasa, memungkinkannya untuk memerankan berbagai karakter dengan dialek yang otentik. Ia juga memiliki ketertarikan mendalam terhadap petualangan di alam bebas dan isu lingkungan, sebuah sisi personal yang jarang tersorot namun melengkapi profilnya sebagai individu yang berwawasan luas. Dengan konsistensinya selama bertahun-tahun, Mike Lucock terus menjadi inspirasi bagi aktor muda lainnya mengenai pentingnya totalitas dan integritas dalam berkarier di industri kreatif.

4. Lukman Sardi

Lukman Sardi, lahir di Jakarta pada 14 Juli 1971, adalah seorang aktor, sutradara, dan produser yang merupakan putra dari musisi legendaris Idris Sardi. Meskipun sudah memulai karier sebagai aktor cilik pada era 70-an, ia sempat meninggalkan dunia hiburan untuk bekerja di bidang lain sebelum akhirnya melakukan comeback yang gemilang pada tahun 2005. Sejak saat itu, ia dikenal sebagai aktor dengan dedikasi tinggi yang mampu menghidupkan setiap karakter dengan kedalaman emosi yang luar biasa.

Perjalanan kariernya dihiasi oleh berbagai peran ikonik dalam film-film monumental seperti Gie (2005), Laskar Pelangi (2008), hingga peran pahlawan nasional dalam Sang Pencerah (2009) dan Soekarno (2013). Tidak hanya berjaya di depan layar, Lukman juga mengukir prestasi sebagai sutradara melalui film Di Balik 98 (2015) dan produser untuk film terbaik FFI, Night Bus. Filmografinya yang luas mencakup berbagai genre, membuktikan fleksibilitasnya sebagai salah satu pilar utama dalam industri perfilman modern Indonesia.

Di balik kesuksesannya, Lukman memiliki fakta unik di mana ia pernah bekerja sebagai tenaga penjual asuransi sebelum kembali ke dunia akting yang membesarkan namanya. Ia dikenal sebagai pribadi yang sangat menghargai proses kreatif dan disiplin tinggi, nilai yang ditanamkan oleh latar belakang keluarganya yang kental dengan budaya seni. Hingga kini, Lukman Sardi terus konsisten berkarya dan menjadi mentor bagi generasi sineas muda, sekaligus menjaga kualitas standar akting di tanah air.

5. Yoga Pratama

Yoga Pratama, lahir di Jakarta pada 18 November 1983, adalah seorang aktor yang telah menapaki industri hiburan Indonesia sejak usia dini. Ia mengawali popularitasnya sebagai bintang cilik yang ikonik lewat film-film Warkop DKI dan sebagai pembawa acara Pesta Anak. Transformasinya dari seorang idola cilik menjadi aktor dewasa dilakukan dengan sangat tenang, di mana ia sempat mengambil jarak dari sorotan publik untuk mendalami integritas seninya sebelum akhirnya kembali dengan citra yang sepenuhnya baru.

Karier dewasanya ditandai dengan pemilihan peran yang berani dan berkualitas tinggi, menjauhkannya dari sekadar aktor komersial. Melalui film-film seperti Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017) dan Berbalas Kejam (2022), Yoga membuktikan kemampuannya membawakan karakter yang kompleks, dingin, namun penuh emosi. Konsistensinya dalam memilih proyek film festival dan drama yang kuat secara narasi telah membawanya ke panggung internasional, menjadikannya salah satu aktor watak yang sangat disegani oleh para sineas.

Di balik layar, Yoga dikenal sebagai sosok yang sangat awet muda dan memiliki kepribadian yang rendah hati serta jauh dari sensasi. Ia tetap menjaga kedekatan emosional dengan sejarah masa kecilnya sebagai "anak kodok" di film Warkop, namun di saat yang sama terus membuktikan bahwa dirinya adalah seniman yang matang dan terus berkembang. Perpaduan antara pengalaman panjang sejak kecil dan idealisme dalam berakting menjadikannya sosok yang unik dan tak tergantikan di dunia perfilman Indonesia saat ini.

6. Magistus Miftah

Magistus Miftah merupakan seniman multitalenta asal Indonesia yang dikenal sebagai penari, pembaca tarot, hingga desainer kostum sebelum akhirnya terjun ke dunia seni peran. Namanya mulai mencuri perhatian publik secara luas setelah berhasil melakukan debut layar lebar sebagai pemeran karakter Novilham dalam film horor komedi bertajuk Ghost in the Cell (2026) garapan sutradara Joko Anwar. Dengan latar belakang pendidikan Fashion Apparel Design dari LaSalle College Jakarta, ia membawa estetika visual yang kuat dan gaya artistik yang khas ke dalam setiap karya seni yang ia tekuni.

Perjalanan kariernya dimulai dari panggung seni pertunjukan dan industri fashion, di mana ia pernah terlibat dalam ajang besar seperti Asian Games 2018 sebagai bagian dari tim kostum dan pertunjukan seni. Langkahnya di dunia akting bermula dari keberaniannya mengikuti open casting untuk film Ghost in the Cell, di mana ia berhasil menyisihkan ratusan peserta berkat karakter penampilannya yang unik. Meskipun filmografi layar lebarnya saat ini baru mencatatkan satu judul, peran Novilham tersebut langsung menjadi scene-stealer berkat ekspresi teatrikal dan penjiwaannya yang sangat natural.

Fakta unik yang melekat pada sosok Magistus adalah keberaniannya dalam berekspresi, salah satunya saat ia menarik perhatian juri audisi dengan menari menggunakan sepatu hak tinggi (high heels). Selain aktif sebagai creative director di rumah kreatif miliknya sendiri, ia juga konsisten membangun citra sebagai konsultan tarot dan instruktur tari profesional. Kombinasi latar belakang desain, kemampuan menari, dan kepribadiannya yang eksentrik menjadikan Magistus Miftah sebagai pendatang baru yang memberikan warna segar dan berbeda bagi industri perfilman Indonesia saat ini.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....