Menelusuri Masjid Raya Gantiang, Jejak Sejarah Perjuangan di Kota Padang

  • 21 Sep 2026 16:19 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Di tengah kota Padang, berdiri Masjid Raya Gantiang yang merupakan masjid tertua di Kota Padang sekaligus tertua kedua di Sumatera Barat. Masjid ini memadukan arsitektur berbagai budaya dan hingga kini tetap digunakan untuk kegiatan keagamaan serta sosial masyarakat.

Awalnya, masjid ini merupakan sebuah surau sederhana di kaki Gunung Padang pada era 1700-an, yang kemudian sempat dipindahkan ke tepi Sungai Batang Arau. Pada tahun 1790, surau tersebut terpaksa dibongkar oleh Pemerintah Hindia Belanda akibat proyek pembangunan akses jalan menuju Pelabuhan Teluk Bayur.

"Berdiri sejak tahun 1805. Itu pembangunannya diprakarsai oleh tiga tokoh, yang saat itu adalah seorang saudagar kaya. Yang mewakafkan tanahnya untuk pendirian masjid ini," ujar Pengurus Masjid Raya Gantiang Bidang Humas dan Publikasi, Yuda Devyal Pratama.

Ketiga tokoh lokal tersebut yakni Angku Gapuak (saudagar Pasar Gadang), Angku Syech Haji Umar (pimpinan kampung), dan Angku Syech Kapalo Koto (ulama). Dengan menggalang dana dari para saudagar di Pasar Gadang, masjid ini akhirnya berdiri di atas tanah wakaf berukuran 30 × 30 meter persegi dan selesai dalam kondisi darurat pada tahun 1810 akibat situasi di era penjajahan, sebelum kemudian disempurnakan sepenuhnya pada tahun 1900.

Akulturasi Arsitektur dan Simbolisme Perjuangan

Arsitektur Masjid Raya Gantiang merupakan perpaduan dari beragam budaya, baik lokal maupun internasional. Mulai dari bagian depan bangunan mengusung gaya klasik Eropa menyerupai benteng Spanyol, kemudian atapnya dihiasi ukiran khas Minangkabau, hingga kubah masjid yang bersusun lima tingkat melambangkan lima rukun Islam dengan model khas Tiongkok.

Ruang utama Masjid Raya Ganting, letak beridirnya 25 tiang penyangga, difoto pada, Mei 2025 (Dok: M. Tsaqif Al Hakim)

Masuk ke dalam ruang utama, berdiri 25 tiang penyangga berbentuk silinder. Masing-masing tiang diberi nama 25 Nabi dan Rasul dalam ajaran Islam, mulai dari Nabi Adam AS. hingga Nabi Muhammad SAW. Kemudian ciri unik lainnya dari masjid ini adalah keberadaan dua mimbar, yakni mimbar bagian luar dan mimbar bagian dalam. Mimbar luar digunakan pada masa awal berdiri di saat pengeras suara belum ada, tujuannya agar adzan terdengar luas. Sedangkan mimbar dalam masih aktif digunakan hingga saat ini untuk khatib menyampaikan khutbah Jumat, Idulfitri, dan Iduladha.

Selain itu pada masa pendudukan Jepang tahun 1942, keberadaan masjid ini juga menjadi tempat pergerakan nasional. Bung Karno dan Bung Hatta sempat menjadikan masjid ini sebagai tempat berlindung dan berdiskusi sekembalinya dari pengasingan di Bengkulu. Masjid ini juga pernah menjadi markas tentara Gyugun dan Heiho (yang merupakan cikal bakal TNI) serta pusat penyusunan strategi perang laskar rakyat dan Tentara Muslim India melawan Sekutu.

Kini Berstatus Sebagai Cagar Budaya

Hingga kini, Masjid Raya Gantiang telah mengalami delapan kali renovasi, terhitung sejak tahun 1900, 1910, 1923, 1948, 1970, 2004, 2009, hingga 2012. Berstatus sebagai cagar budaya, setiap proses pemugaran masjid harus mengantongi izin resmi dari Dinas Kebudayaan Sumatera Barat.

"Pendanaan masjid ini masih 100% mengandalkan dana umat. Artinya berupa sedekah, infaq dari donator-donator. Jadi kalau untuk renovasi masih butuh waktu," tambah Yuda.

Selain fungsi keagamaan, masjid yang sanggup menampung hingga 4.000 jamaah pada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha ini terus menjalankan fungsi sosial. Setiap bulan Ramadan, pengurus masjid secara rutin mendistribusikan bantuan kepada anak yatim dan warga yang membutuhkan di sekitar kawasan Gantiang. (Ditulis oleh mahasiswa magang: M. Tsaqif Al Hakim, Universitas Negeri Padang).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....