Tujuh Dekade UNAND, Mengubah Riset Menjadi Dampak

  • 06 Sep 2026 09:23 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Minggu pagi di Kota Padang biasanya menjadi milik para pelari, pesepeda, dan keluarga yang menikmati Car Free Day. Namun pada 30 Agustus 2026 silam, ruang publik itu berubah menjadi etalase lain, yakni tempat ilmu pengetahuan Universitas Andalas turun dari kampus, menyapa masyarakat secara langsung.

Sebanyak 17 stan fakultas dan UMKM binaan UNAND hadir membawa beragam cerita. Ada layanan kesehatan dan pemeriksaan gigi gratis, produk usaha masyarakat, alat dan mesin pertanian, hasil riset, inovasi teknologi hingga edukasi kesiapsiagaan bencana.

Di tengah keramaian itu, masyarakat tidak hanya diajak melihat apa yang dihasilkan sebuah perguruan tinggi. Mereka juga diperlihatkan bagaimana pengetahuan, penelitian dan inovasi dapat menemukan jalannya menuju kebutuhan sehari-hari.

Ketua Dies Natalis ke-70 UNAND, Muhammad Reindra, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari semangat pengabdian kampus kepada masyarakat. Menurutnya, dosen dan akademisi harus terus melahirkan inovasi yang mampu menjawab tantangan zaman dan memberikan manfaat luas.

“Dosen dan akademisi Universitas Andalas terus berkembang melahirkan inovasi dan mampu memberikan solusi terhadap kebutuhan masyarakat,” ujar Reindra.

Bagi Universitas Andalas, kegiatan itu bukan sekadar perayaan ulang tahun. Tema “Tumbuh Berakar, Menjulang Berdampak” menjadi penanda bahwa perjalanan tujuh dekade UNAND harus diterjemahkan dalam karya yang menyentuh kehidupan masyarakat.

Ketika Riset Menjawab Ancaman TBC

Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus Octavianus berbincang dengan Rektor UNAND, EFa Yonnedi terkait pengembangan kit diagnostik berbasis riset lokal untuk mendeteksi tuberkulosis laten. (Foto: Humas UNAND)

Salah satu cerita tentang dampak itu datang dari Laboratorium Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran UNAND. Di tempat tersebut, Dr. dr. Andani Eka Putra bersama tim mengembangkan INA-QUANTIFERON TB, kit diagnostik berbasis riset lokal untuk mendeteksi tuberkulosis laten.

Teknologi itu dirancang mendeteksi infeksi Mycobacterium tuberculosis melalui pengukuran kadar interferon-gamma dalam darah. Inovasi tersebut dikembangkan melalui kolaborasi lintas perguruan tinggi dan institusi kesehatan.

Riset itu hadir di tengah persoalan TBC yang masih besar. Data dalam naskah menyebut Indonesia menghadapi sekitar 1,09 juta kasus baru TBC setiap tahun dengan sekitar 125 ribu kematian.

Di Sumatera Barat, persoalannya juga belum selesai. Diperkirakan terdapat sekitar 25 ribu penderita TBC, sementara kasus yang berhasil ditemukan baru sekitar 62 persen.

Artinya, masih ada banyak orang yang belum ditemukan dan belum mendapatkan pengobatan. Di situlah deteksi dini menjadi penting, karena pengobatan tidak mungkin diberikan kepada mereka yang belum diketahui keberadaannya.

Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus Octavianus menilai, persoalan tersebut membutuhkan langkah yang lebih luas daripada sekadar mengobati pasien. “Mengobati TBC saja tidak cukup, sebab penyakit ini terus berjalan,” ujarnya.

Kalimat itu sekaligus menegaskan mengapa riset seperti INA-QUANTIFERON TB memiliki arti strategis. Penanganan TBC membutuhkan kemampuan menemukan penyakit lebih dini, teknologi yang sesuai kebutuhan, serta kolaborasi yang berkelanjutan.

Dari Laboratorium ke Kemandirian Kesehatan

INA-QUANTIFERON TB membawa cerita yang lebih besar tentang kemandirian teknologi kesehatan. Kit tersebut ditargetkan memiliki harga lebih terjangkau dibanding produk impor sehingga akses terhadap deteksi TBC laten dapat diperluas.

Pemerintah melihat peluang produksi dalam negeri sebagai langkah penting. “Kalau ini bisa diproduksi di dalam negeri, tentu menjadi langkah besar bagi kemandirian kesehatan Indonesia,” hal ini disampaikan oleh Wamenkes RI, Benjamin saat meninjau UNAND beberapa waktu lalu.

Bagi Rektor UNAND Efa Yonnedi, arah tersebut memperlihatkan posisi perguruan tinggi dalam menjawab persoalan nasional. Kampus, katanya, ingin memastikan hasil penelitian tidak berhenti sebagai temuan akademik.

“Kami ingin riset-riset kampus tidak berhenti di laboratorium, tetapi memberi dampak langsung bagi masyarakat,” ujar Efa. Kalimat itu seperti merangkum wajah UNAND yang ingin ditampilkan dalam perayaan tujuh dekade. Laboratorium bukan titik akhir, melainkan tempat sebuah gagasan memulai perjalanan menuju masyarakat.

Kampus yang Bersiap Sebelum Bencana

Kepala BNPB, Letjen TNI Dr. Suharyanto (paling kanan) bersama Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi dan Rektor UNAND, Efa Yonnedi (tengah) meninjau RS Unand. (Foto: Humas UNAND)

Dampak UNAND tidak berhenti pada bidang kesehatan. Di wilayah yang akrab dengan ancaman gempa dan tsunami, kampus juga mengambil bagian dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Rumah Sakit Universitas Andalas yang berada di kawasan perbukitan Limau Manis menjadi Tempat Evakuasi Akhir di Kota Padang. Lokasinya yang jauh dari garis pantai menjadikan rumah sakit tersebut strategis dalam skenario gempa megathrust yang diikuti tsunami.

Direktur Utama RS UNAND Dr. dr. M. Riendra menyebut rumah sakit itu siap menjadi tumpuan terakhir penyelamatan. Dengan status Tipe B dan dukungan dokter spesialis, RS UNAND juga disiapkan sebagai titik konsolidasi logistik, koordinasi, dan penanganan darurat.

“Jika bencana megathrust terjadi, RS UNAND akan menjadi pusat evakuasi yang diandalkan. Lokasinya aman, fasilitasnya memadai, dan tenaga medisnya siap,” ujar Riendra.

Namun kesiapsiagaan tidak hanya membutuhkan bangunan yang kokoh. Ia membutuhkan manusia yang memahami risiko dan tahu apa yang harus dilakukan ketika bencana benar-benar terjadi.

Karena itu, UNAND memperkuatnya melalui Magister Manajemen Bencana, riset megathrust, serta kerja sama dengan BNPB dan Pemerintah Australia melalui Program SIAP SIAGA. Direktur Sekolah Pascasarjana UNAND Prof. apt. Henny Lucida menegaskan pentingnya menyiapkan sistem sebelum bencana datang. “SDM dan sistem harus disiapkan sebelum bencana datang,” katanya.

Ilmu yang Turun ke Lapangan

Mahasiswa dan Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis menyalurkan bantuan kemanusiaan saat bencana ekologis melanda Sumatera Barat di penghujung 2025 (Foto: FEB Unand)

Jejak itu sebenarnya telah berlangsung jauh sebelum Dies Natalis ke-70. UNAND tercatat terlibat dalam aksi kemanusiaan saat erupsi Gunung Marapi pada 2023, gempa Palu-Donggala 2018, Mamuju-Majene 2021 hingga banjir besar Pakistan 2022.

Di Sumatera Barat, Pusat Studi Bencana UNAND juga turun mengkaji kerusakan infrastruktur akibat banjir bandang dan longsor di Agam dan Tanah Datar pada akhir November 2025. Kajian tersebut menghasilkan rekomendasi mitigasi, salah satunya pembangunan Sabo Dam di kawasan Sungai Anai.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan akademik dapat bergerak lebih jauh dari ruang seminar. Ia bisa menjadi bahan pertimbangan pemerintah untuk menentukan langkah pencegahan dan memperkuat perlindungan masyarakat.

Dengan kata lain, kampus tidak hanya hadir setelah bencana terjadi. Penelitian juga digunakan untuk membaca risiko sebelum ancaman itu kembali datang.

Tujuh Dekade dan Pertanyaan Berikutnya

Pada tanggal 13 September 1956 Wakil Presiden Drs. Mohammad Hatta meresmikan pembukaan Universitas Andalas di Bukittinggi. (Foto: Humas UNAND)

Capaian akademik turut menguatkan perjalanan tersebut. Berdasarkan Klasterisasi Perguruan Tinggi 2026, UNAND berada dalam Klaster Mandiri, klaster tertinggi dalam penilaian kinerja penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

UNAND meraih skor 50,94 dan berada pada posisi ketujuh nasional di antara perguruan tinggi penyelenggara akademik dalam kelompok Klaster Mandiri. Namun capaian itu tidak ingin berhenti sebagai angka dalam sebuah pemeringkatan.

Ketua LPPM UNAND Prof. Dr. techn. Marzuki mengatakan capaian tersebut justru menjadi dorongan untuk bekerja lebih jauh. “Capaian klasterisasi ini merupakan titik pacu untuk lompatan kinerja berikutnya,” ujarnya.

Wakil Rektor IV UNAND Prof. Henmaidi juga mengingatkan bahwa Dies Natalis bukan sekadar perayaan usia institusi. Momentum tersebut harus memperkuat semangat menghasilkan karya yang memberi kontribusi nyata.

“Universitas Andalas tetap berpijak pada nilai luhur dan budaya akademik yang kuat, sekaligus terus melahirkan karya, inovasi, dan lulusan yang memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” katanya.

Pada akhirnya, tujuh dekade UNAND bukan hanya cerita tentang perjalanan sebuah universitas. Ia adalah cerita tentang bagaimana ilmu pengetahuan berusaha keluar dari ruang akademik, menyentuh persoalan kesehatan, membaca ancaman bencana, membantu masyarakat, dan perlahan mengubah pengetahuan menjadi manfaat.

Car Free Day pada pagi itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun dari 17 stan yang berdiri di tengah ruang publik, UNAND sedang memperlihatkan satu pesan penting, bahwa kampus boleh tumbuh di balik pagar akademik, tetapi dampaknya harus melampaui pagar tersebut.

Dan ketika usia 70 tahun menjadi sebuah penanda, pertanyaan berikutnya bukan lagi seberapa jauh UNAND telah bertumbuh. Melainkan, seberapa jauh pengetahuan itu mampu menjulang, namun tetap berakar pada nilai luhur dan memberi manfaat yang nyata bagi masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....